Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (P)
Ul. 8:2–3, 14b–16a; Mzm. 147:12–13, 14–15, 19–20; 1 Kor. 10:16–17; Yoh. 6:51–58.
Saudara terkasih, sampai saat ini pangan atau makanan masih tetap dianggap sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia. Di tengah perkembangan gaya hidup, budaya dan teknologi yang terkadang membuat manusia sering lupa makan karena gadget, tidak membuat predikat makanan sebagai kebutuhan pokok menjadi hilang. Makanan tetap menjadi penjamin kelangsungan hidup manusia. Setiap manusia membutuhkan makanan sebagai penjamin kesehatan dan kebugaran tubuh jasmaninya.
Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Bagi setiap orang Katolik, istilah Tubuh dan Darah Kristus menjadi salah satu pokok iman dan rumusan liturgis yang sering didengar, teristimewa oleh mereka yang sudah diperbolehkan menerima Sakramen Ekaristi. Permenungan pada hari raya ini pertama-tama mengajak kita untuk menyadari bahwa selain tubuh jasmani yang membutuhkan makanan seperti yang telah disebutkan di atas, kita sebagai orang beriman juga memiliki tubuh rohani yang sama-sama membutuhkan makanan.
Kita bisa menyebut misalnya nasi dan lauk-pauknya sebagai makanan bagi tubuh jasmani. Lantas, apa yang menjadi makanan bagi tubuh rohani kita? Bacaan-bacaan hari ini menuntun kita untuk menemukan jawabannya. Bacaan pertama mengajak kita untuk mengalami peran Allah dalam menjamin kebugaran tubuh rohani kita melalui pengalaman Bangsa Israel. Ketika mereka mengalami kelaparan di padang gurun, Allah menganugerahkan manna untuk mengatasi rasa lapar itu. Ketika menganugerahkan manna kepada Bangsa Israel, Allah tidak hanya memberi makan tubuh jasmani mereka, tetapi serentak mengajarkan kepada mereka untuk menjadi bangsa yang rendah hati dan senantiasa menggantungkan harapan mereka kepada Allah.
Anugerah manna di padang gurun juga menjadi kesempatan bagi Allah untuk membuat mereka mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari setiap firman Allah. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengajak kita untuk melihat lebih dalam, yakni bahwa roti dan cawan yang menjadi peringatan perjamuan Tuhan bukan semata-mata pemuas dahaga bagi tubuh rohani, melainkan menjadi kesempatan untuk bersekutu secara penuh dengan Kristus. Persekutuan ini membuat kita menjadi satu tubuh yakni Tubuh Kristus sendiri. Persekutuan inilah yang akan menjadi jaminan bagi kita untuk hidup yang kekal.
(Fr. Firovani Adikila)
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh. 6:54).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, terima kasih atas Sabda dan Tubuh-Mu yang menjamin hidupku. Amin.











