“Konsekuensi Pendoa”: Renungan, Kamis 18 Juni 2020

0
2641

Hari Biasa (H)

Sir. 48:1-14; Mzm. 97:1-2,3-4,5-6,7; Mat. 6:7-15. 

Hidup sebagai pendoa dan terus berada di jalan benar memang tidaklah mudah. Bahkan untuk menjadi seorang pendoa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Menjadi pendoa berarti siap untuk menanggung segala konsekuensi yang akan diterima dalam diri sendiri. Dengan menjadi pendoa berarti siap untuk hidup dalam kebenaran, berbuat kasih, rela berkorban dan mengasihi orang lain. Selain itu,  menjadi pendoa seringkali dianggap oleh orang-orang tertentu sebagai orang yang cari muka, cari perhatian dan berlagak sok suci.

Saudara terkasih, itulah konsekuensi yang harus ditanggung dan diterima jika ingin menjadi pendoa. Dalam bacaan pertama ditampilkan sosok nabi Elia. Nabi Elia adalah sosok pendoa yang patut dicontohi. Nabi Elia juga tampil sebagai sosok yang peduli dengan banyak orang. Sebagai pendoa yang baik nabi Elia menerima segala konsekuensi dalam diri. Dengan penuh iman ia menyerahkan seluruh dirinya untuk berdoa dan memohon pertolongan dari Tuhan. Berkat doanya yang tulus nabi Elia dapat membuat mukjizat sepanjang hidupnya.

Dalam bacaan Injil Yesus sendiri mengajarkan kepada para murid-Nya bagaimana cara berdoa. Yesus ingin murid-murid-Nya sungguh-sungguh menjadi pendoa yang tahu doa yang benar dan tujuan doa itu sendiri. Yesus mengajarkan kepada para murid agar doa pertama-tama harus ditujukan untuk pujian dan kemuliaan Allah Bapa. Bahwa Allah adalah yang utama dan dapat memberikan berkat-Nya untuk semua orang. Yesus ingin agar kita semua berdoa seturut kehendak Allah dan bukan untuk kehendak kita sendiri.

Saudara terkasih, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dalam setiap doa ada tiga hal penting. Pertama, bahwa kita berdoa untuk memohon berkat untuk kehidupan kita sekarang. Kedua, berdoa untuk meminta pengampunan atas segala doa yang telah diperbuat. Ketiga, berdoa agar selalu diberikan perlindungan atas segala persoalan kehidupan. Jika kita berpegang pada apa yang diajarkan oleh Yesus tentu kita sudah menjadi seorang pendoa yang benar. Dengan demikian kita sudah turut ambil bagian dalam ajaran-Nya dan siap untuk menanggung konsekuensi menjadi seorang pendoa. Untuk itu marilah dalam seluruh kehidupan kita serahkan seutuhnya diri kita kepada Allah, sehingga kita bisa berjalan seturut kehendak Allah sendiri.

 (Fr. Adri Montolalu)

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita” (Mzm. 62:9).

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarkanlah aku agar menjadi pendoa yang bijak. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini