Pw S. Antonius dr Padua (P)
1Raj. 19:19-21; Mzm. 16:1-2a,5,78,9-10; Mat. 5:33-37.
Kebohongan atau dusta merupakan sikap hati yang bertentangan dengan suara hati. Pada dasarnya suara hati selalu menghantarkan manusia pada tindakan dan keputusan yang benar secara moral. Kebohongan merupakan tindakan yang lahir akibat pertimbangan yang keliru dan tidak mengikuti tuntunan suara hati itu sendiri. Pada umumnya sikap ini tidak pernah terlepas dari realitas kehidupan manusia.
Saudara terkasih, Injil hari ini mau mengingatkan kita untuk mempergunakan suara hati kita dengan benar. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37). Suara hati merupakan suara Tuhan, suara itu selalu mengandaikan adanya pilihan: “ya atau tidak”. Berada dalam pertimbangan yang lama membuat pilihan itu menjadi sulit untuk diputuskan. Dengan keterarahan yang tepat pada kebenaran, pilihan itu harus dieksekusi. Jika tidak, situasi dilematis akan datang menghampiri dan membuat tidak adanya pilihan. Pada akhirnya suatu kebenaran akan dikorbankan akibat tidak adanya keputusan.
Elisa menunjukkan kepada kita suatu sikap hati yang senantiasa terarah pada suatu kebenaran. Tanpa keragu-raguan ia berani menyatakan “Ya” terhadap panggilan Allah. Dengan segera ia mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. Sikap yang ditunjukkan Elisa merupakan contoh konkret dari putusan suara hati. Tanpa mengulur waktu ia mengikuti suara hatinya untuk menjadi hamba Allah dengan menjadi pelayan Elia. Keputusan yang diambil Elisa merupakan suatu gerakan dari suara hati.
Saudara terkasih, hari ini Gereja Universal merayakan St. Antonius dari Padua. Ketertarikannya pada doa, studi, dan pekerjaan-pekerjaan rohani bagi kepentingan jiwa-jiwa membuatnya berkata “Ya” terhadap panggilan Allah. Doa menjadi kekuatan utamanya dalam karya-karyanya. Hari ini Yesus mengajak kita untuk menggunakan suara hati kita dengan benar dan tepat. Kita juga diajak untuk meneladani Elisa dan Antonius, yang tanpa bimbang langsung berkata “Ya” terhadap panggilan hidup mereka. Suara hati akan membawa kita pada pilihan yang tepat, jika hidup kita senantiasa berhubungan dengan Yesus melalui doa. Ingat suara hati merupakan suara Tuhan.
(Fr. Theofilus Pontoh)
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37).
Marilah berdoa:
Ya Allah, terangilah suara hati kami agar dapat memutuskan dan memilih dengan benar. Amin.











