“Perintah Bukan Ajakan”: Renungan, Selasa 7 April 2020

0
1336

Hari Selasa dalam Pekan suci (U)

Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2, 3-4a, 5-6ab, 15, 17; Yoh. 13:21-33, 36-38.

Pada pekan suci ini, bacaan-bacaan liturgi menaruh fokus pada kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus. Yesus digambarkan sebagai seorang hamba yang setia. Ia setia pada kehendak Bapa-Nya sampai wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia.

Bacaan pertama dalam kitab Yesaya berisi nubuat mengenai Mesias yang akan datang. Mesias yang dimaksudkan itu adalah Yesus sendiri yang disebut “Hamba Tuhan”. Pelayanan-Nya membawa pendamaian bagi dosa, keselamatan bagi semua bangsa, pemulihan Israel, dan hukuman atas orang fasik.

Pendamaian dosa manusia harus disertai dengan tindakan. Bacaan injil hari ini, mengisahkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas kepada Yesus yang berujung pada penangkapan Yesus. Menariknya, Yesus sudah mengetahui siapa murid yang akan mengkhianati-Nya, namun Ia malah mempersilahkan murid itu pergi dan melaksanakan rencananya. Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya. Mengapa?

Injil Yohanes tidak memberikan penjelasan mengenai hal ini namun peristiwa ini terjadi karena memang Allah sendirilah yang menghendaki. Karena itu Yesus membiarkannya pergi agar rencananya terlaksana.  Ini adalah sebuah bentuk ketaatan Yesus kepada Bapa. Ketaatan di sini tidak boleh diartikan sebagai kepasrahan karena sudah tidak memiliki pilihan lain atau pasrah pada nasib. Melainkan apa yang Yesus tunjukkan adalah sebuah ketaatan yang berasal dari kehendak bebasnya untuk taat kepada Bapa.

Ketaatan Yesus kepada Allah Bapa patutlah kita contohi. Kita sebagai pengikut Kristus tidak boleh pasrah dengan keadaan. Setiap cobaan atau pergumulan hidup yang kita alami harusnya menghantarkan kita untuk lebih dekat lagi dengan Bapa. Dengan taat kepada Bapa, maka kita memberikan ruang bagi-Nya untuk bekerja dalam diri kita.

Sebelum Yesus pergi, Ia memberikan sebuah perintah baru kepada para murid-Nya, yaitu agar mereka saling mengasihi. Dengan saling mengasihi maka semua orang akan tahu bahwa mereka adalah murid Kristus. Kita pun sebagai pengikut Kristus harus saling mengasihi. Karena mengasihi adalah sebuah keharusan yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

                                                                                               (Fr. Reno Sondakh)

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34.)

Marilah berdoa:

Allah sumber segala kasih, bantulah aku mewujudkan kasih-Mu kepada semua orang. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini