“Tiket Keselamatan”: Renungan, Senin 2 Maret 2020

0
1773

Hari Biasa Pekan I Prapaskah (U)

Im. 19:1-2, 11-18; Mzm. 19:8,9,10,15; Mat. 25:31-46

Banyak dari kita pernah menonton film di bioskop. Untuk masuk ke dalam bioskop tentu kita harus memiliki tiket. Oleh karena itu sebelum menonton kita selalu berantrian untuk membeli tiket. Ilustrasi ini kurang lebih menggambarkan situasi yang akan kita alami ketika mengalami kematian.

Digambarkan dengan jelas bahwa kita semua yang telah mengalami kematian akan berkumpul di hadapan Anak Manusia yang datang dengan kemuliaan-Nya dan akan menyeleksi semua orang seperti halnya gembala yang memisahkan domba dan kambing.

Orang benar yang ditempatkan di sebelah kanan-Nya akan dipersilahkan untuk masuk ke dalam dan menikmati Kerajaan Allah sedangkan orang jahat akan diusir dan dikutuk dalam api yang kekal bersama dengan para iblis. Mengapa ada pemisahan? Ini menjadi tanda bahwa ada syarat atau katakanlah tiket untuk masuk dan tinggal bersama dengan Allah.

Nah, bila kita perhatikan proses penghakiman tersebut, ada satu pertanyaan yang menarik untuk kita refleksikan yakni “Bilamanakah kami melihat Engkau haus, lapar, orang asing?”. Pertanyaan ini merujuk pada proses kehidupan kita sehari-hari.

Yesus sebelumnya telah mengajarkan bahwa kita semua telah diberikan talenta oleh Allah. Talenta tersebut diberikan bukan hanya sebagai sesuatu yang melekat pada kodrat kita sebagai manusia tetapi juga sesuatu yang harus dikembangkan untuk perkembangan diri kita dan juga untuk membantu sesama kita.

Meski masing-masing memiliki talenta namun kita semua sebagai manusia yang tak sempurna tentu memiliki keterbatasan baik itu keterbatasan fisik maupun keterbatasan kemampuan. Oleh karena keterbatasan tersebut, Tuhan menghendaki agar kita menjadi manusia sosial yang membutuhkan orang lain dan juga serentak menghidupi orang lain.

Memberikan diri untuk bisa menghidupi orang lain tentu sulit untuk dipraktekkan dalam hidup kita karena kita selalu berpikir bahwa kita sendiri juga masih dalam situasi kekurangan. Kita harus membuang jauh paradigma atau cara pikir tersebut. Sebab yang Yesus butuhkan adalah pemberian diri kita. Karena sekecil apapun pertolongan kita kepada sesama, jika dilakukan dengan ketulusan hati, akan menjadi berkat yang besar bagi orang yang kita tolong.

Membantu sesama bukanlah tindakan sia-sia, tetapi merupakan persembahan untuk Tuhan yang tinggal dalam diri sesama kita. Bantuan dan persembahan inilah yang dapat menjadi tiket bagi kita untuk masuk dan tinggal bersama dengan Allah. Berarti, melakukan kebaikan bagi sesama sungguh menjadi syarat untuk keselamatan kita.

(Fr. Everestus Nerow Leftungun)

“Sesugguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”
(Mat. 25:40).

Marilah berdoa:

Tuhan, jadikanlah aku berkat-Mu bagi semua orang. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini