Hari Minggu Prapaskah III (U).
Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2.6-7.8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42 (panjang) atau Yoh. 4:5-15,19b,26,39a,40-42 (pendek)
Rasa haus merupakan sinyal fisiologis bahwa tubuh membutuhkan air. Apabila tidak dipenuhi dapat menyebabkan dehidrasi, yaitu kehilangan cairan tubuh yang berlebihan. Setiap makhluk hidup membutuhkan air dalam jumlah yang cukup. Bila tidak terpenuhi, maka kehidupan tidak akan bertahan.
Demikian halnya dalam hidup spiritual. Kehausan spiritual akan menyebabkan kita mengalami kekeringan rohani, kekosongan batin, perasaan gelisah dan jauh dari damai-sejahtera. Dewasa ini, rasa haus tadi menjadi semakin bervariasi. Sepertinya, salah satu kebutuhan utama manusia modern adalah rasa haus yang cenderung untuk ‘memiliki’. Tidaklah mengherankan, jikalau banyak orang rela menghalalkan cara untuk ‘memiliki lebih banyak. Setelah ‘memiliki lebih banyak’, ternyata rasa haus itu tetap datang dan tidak memberikan kelegaan.
Perempuan Samaria dalam Injil hari ini mengalami hal yang sama. Ia belum mengalami kelegaan meski telah memiliki 5 pria dalam hidupnya. Adapun, penyebab dari semua ke’haus’an duniawi ini tidak lain adalah ‘hawa-nafsu’ yang selalu menipu kita, sehingga kita tidak mampu mengalami makna hidup yang sesungguhnya. Sumber hawa-nafsu adalah kuasa dosa. Dosa selalu membuat manusia berada dalam rasa yang tertinggal, yakni sebuah ketergantungan, situasi kehausan dan situasi yang tidak pernah selesai, sehingga membuat manusia selalu merasa tidak puas.
Dosa dan hawa nafsu hanya dapat dikalahkan oleh Kristus. Karya penebusan dan kasih Kristuslah yang mematahkan belenggu dosa. Yesus berkata: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!” (Yoh. 7:37). Kristus menyediakan mata air kehidupan, bahkan Dialah mata air kehidupan itu, mata air yang tidak pernah kering; yang memuaskan dahaga spiritual manusia; sebagaimana sabda Yesus: “Air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 4:14).
Jadi, Mengapa kita selaku umat percaya, masih juga merasa haus secara rohani? Karena kita masih lekat dengan dosa dan keinginan duniawi. Karena hati kita sesungguhnya tidak memuliakan Kristus. Kita cenderung memuliakan diri sendiri dan kuasa dunia melalui semua ‘harta milik’ kita (kekayaan, status, kepandaian, keahlian, dan kenikmatan). Kita lebih melekat erat dengan rasa duniawi tersebut dan tidak mau mencari Kristus. Kita masih nyaman dengan ‘rasa yang tertinggal’ dalam dunia ini. Kita tak mau menghiraukan ajakan Yesus yang menghadirkan kelegaan. Kita sendirilah yang menutup diri dari Kasih Yesus yang menghidupkan.
(Fr. Micky Kojongian)
“Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yoh. 4:14a).
Marilah berdoa:
Tuhan, ijinkan aku menjadi air yang menghidupkan sesama. Amin











