“Pengampunan Tak Bersyarat”: Renungan, Sabtu 14 Maret 2020

0
2823

Hari Biasa Pekan II Prapaska (U)

Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,34,9-10,11-12; Luk. 15:1-3,11-32

Bagi kebanyakan orang, kisah tentang si korban yang  mengampuni pelaku kejahatan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Entah menjadi pelaku, korban ataupun pengamat orang tidak asing lagi dengan kisah ini. Kisah pengampunan yang terkenal di dunia misalnya, Paus Yohanes Paulus II yang mengampuni pelaku penembakan terhadap dirinya, atau kisah pengampunan dari Mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela yang mengampuni Sipir Penjara. Dua kisah ini tentunya hanya mewakili begitu banyak kisah mengampuni yang lain. Namun, pengampunan yang datang dari manusia terkadang merupakan pengampunan yang bersyarat.

Bacaan-bacaan hari ini, secara khusus bacaan Injil, bertemakan pengampunan dari Allah. Allah mengampuni tanpa syarat. Dikisahkan bahwa Yesus menggunakan perumpamaan tentang anak yang hilang untuk menunjukkan kepada para pemungut cukai, orang berdosa, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bahwa Allah sesungguhnya mengampuni orang yang berdosa tanpa syarat apapun. Tindakan seorang bapa yang masih menerima kedatangan anak bungsunya yang telah berdosa menjadi sebuah contoh dari bentuk pengampunan. Bagi kebanyakan orang bila menghadapi realita seperti demikian, kita bisa saja bertindak sebaliknya. Secara manusiawi kita akan cenderung berpikir bahwa sikap yang anak itu perlihatkan sudah sangat berlebihan dan tidak bisa untuk diampuni. Inilah kecenderungan berpikir yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita.

Dalam kisah perumpamaan, Allah ditampilkan sebagai bapa yang tidak pernah mengeluh, marah bahkan kecewa ketika anaknya berbuat dosa. Bahkan, Nabi Mikha pun dalam bacaan pertama mengakui betapa luar biasanya pengampunan dari Allah kepada orang berdosa, dengan berkata, “Siapakah Allah  seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?”.

Pengakuan dari Nabi Mikha dan sikap bapa yang dikisahkan dalam perumpamaan anak yang hilang sejatinya merupakan sebuah kabar gembira bagi kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, terutama untuk meminta pertobatan dan pengampunan dari-Nya. Terlebih dalam Masa Prapaskah ini, kita semua diajak untuk bertobat. Sebesar apapun dosa kita, Allah tetap menerima kita kembali di dalam rumah-Nya yang abadi, rumah yang penuh dengan belas kasih. Maka, beranilah mengakui dosa dan kesalahan kita kepada Allah, sebab Allah kita Maha Pengampun.

 (Fr. Devri Maturbongs)

“Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk.15 :32).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah kami dengan daya Roh Kudus-Mu agar kami tidak takut mengakui segala kesalahan dan dosa kami kepada Bapa di Surga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini