“Keangkuhan menuju Kehancuran”: Renungan, Jumat 13 Maret 2020

0
3850

Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).

 Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 21:33-43,45-46.  

Pada umumnya manusia mempunyai kecenderungan untuk sulit menerima serta mengakui sesamanya yang memiliki keberhasilan atau kelebihan. Hal itu didorong oleh berbagai hal. Misalnya, karena keberhasilan seseorang membuat kita merasa tersaingi, atau karena seseorang memiliki ketenaran membuat kita menjadi irih dan bahkan membenci orang tersebut.

Sebenarnya perasaan inilah yang membuat kita sulit untuk menerima diri kita apa adanya. Kita menjadi iri dengan  keberhasilan orang lain. Dan kita berusaha untuk menjatuhkan sesama. Semua hal inilah yang membuat kita jatuh ke dalam dosa. Keangkuhan membawa kita pada kehancuran.

Bacaan-bacaan hari ini, baik dari bacaan pertama maupun bacaan Injil, mau berbicara tentang satu hal kepada kita yakni, sifat angkuh atau sombong yang selalu membawa manusia kepada keberdosaan. Dalam bacaan pertama, dikisahkan bahwa Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain. Sikap Israel ini ternyata menimbulkan sifat cemburu dari saudara-saudara Yusuf, dan bahkan mereka berniat untuk membunuh adik mereka sendiri.

Demikian pun perumpamaan yang Yesus sampaikan dalam bacaan Injil hari ini, mau mengatakan bahwa semenjak penciptaan Allah telah menciptakan segalah sesuatu itu baik adanya (dilambangkan dengan kebun angur), dan mempercayakan sumuanya kepada manusia (penggarap-penggarap). Tetapi karena manusia pada akhirnya jatuh ke dalam dosa, Allah mengutus para nabi (hamba-hamba) untuk menyampaikan firman-Nya. Namun karena hati manusia sudah tertutup oleh kegelapan dosa, para nabi itu pun dibunuh. Dan kemudian Allah mengutus putera-Nya yang tunggal sebagai cara Allah untuk menebus dosa umat-Nya.

Pesan yang dapat kita tarik dari bacaan-bacaan hari ini adalah kasih Allah kepada manusia itu tak berkesudahan. Mekipun manusia telah menunjukkan sikap ketidaktaatannya, dan membuat manusia itu jatuh ke dalam dosa, namun Allah senantiasa mempunyai cara agar manusia dapat kembali kepada-Nya dan bertobat, sekalipun harus dengan kematian Putra-Nya.

Menjadi pertanyaan refleksi bagi kita, apakah kita aka akan terus menunjukkan sikap keangkuhan dan tidak mau menerima tawaran keselamatan dari Allah? Atau bebaliknya, kita mau menunjukkan sikap kerendahan hati kita di hadapan Tuhan, agar kita dapat memperoleh keselamatan? Kita sendirilah yang harus menjawabnya.

(Fr.Jacky Mononimbar)

 “Sebab barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 14:11).

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarilah kami untuk memahami bahasa cinta-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini