Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U).
Ul. 4:1,5-9; Mzm. 147:12-13,1516,19-20; Mat. 5:17-19.
Hukum atau aturan adalah hal mutlak yang diperlukan dalam tatanan kehidupan manusia. Sudah dapat dibayangkan bagaimana situasi dunia jika manusia hidup dengan kebebasan mutlak tanpa adanya hukum atau aturan. Ujung-ujungnya tentu adalah kekacauan. Oleh karena itu, aturan diberlakukan sebagai patokan bagi manusia, agar kehidupannya teratur dan terhindar dari kekacauan.
Melalui bacaan pertama hari ini, Musa menasehati bangsa Israel untuk menaati hukum yang diberikan Allah. Taat pada hukum Allah menjadi tanda pengenal bangsa Israel di mata bangsa-bangsa lain (Ul. 4:6). Selain menaati hukum, Allah mengingatkan bangsa Israel untuk tetap memelihara hukum-hukum-Nya (Ul. 4:9). Dengan ini, bacaan pertama bermaksud menunjukkan ciri khas umat Allah, yakni sebagai manusia yang taat dan pemelihara hukum Allah. Taat akan hukum Allah berarti bersedia mematuhi apa saja yang diperintahkan Allah. Sedangkan, memelihara hukum Allah berarti setia menjaga agar hukum tersebut tetap ada dan tetap dilaksanakan.
Sejalan dengan itu, melalui bacaan Injil Yesus menegaskan bahwa Diri-Nya datang untuk menggenapi Hukum Taurat. Penggenapan atas Hukum Taurat dilaksanakan oleh Yesus dengan mereformulasikan Hukum Taurat menjadi Hukum Kasih. Karena secara sederhana kasih menjadi dasar Hukum Taurat.
Allah memberikan hukum kepada bangsa Israel, karena Ia mencintai mereka dan agar hukum itu menjadi pedoman bagi mereka. Supaya mereka dapat menjalankan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah dan semakin mengasihi Allah. Sehingga, ketika seorang ahli Taurat bertanya tentang hal yang utama dari hukum Taurat, maka Yesus memberikan jawaban dengan mengacu pada dua sasaran, yakni kasih terhadap Tuhan dan kasih terhadap sesama. Dengan ini, Yesus mau menekankan kasih sebagai hal yang terutama di atas segala hukum atau aturan yang ada.
Kendati demikian, kita bukanlah manusia yudisial atau manusia yang menjadikan aturan sebagai segala-galanya. Bacaan-bacaan liturgi hari ini mengingatkan kita bahwa kita harus mengutamakan kasih lebih daripada aturan-aturan atau hukum-hukum yang lain. Oleh karena itu, ketika kita diperhadapkan dengan suatu dilema, antara menaati aturan atau berbuat kasih, sebagai orang Kristen kita harus tegas untuk memilih berbuat kasih dibandingkan yang lain. Sebab inilah jati diri kita sebagai orang Kristen.
(Fr. Giovani Gosal)
“Siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga” (Mat. 5:19b).
Marilah Berdoa:
Ya Tuhan, bantulah hamba-Mu dalam mewujudnyatakan kasih-Mu dalam kehidupan setiap hari. Amin











