“Doa Yang Sempurna”: Renungan, Selasa 3 Maret 2020

0
2704

Hari  biasa Pekan Prapaska I (U)

Yes. 55:10-11; Mzm. 34:4-5,6-7,1617,18-19; Mat. 6:7-15

Dalam realitas kehidupan setiap hari, hal yang sangat membosankan adalah ketika mendengarkan orang lain berbicara bertele-tele atau berbicara terlalu lama. Hal ini pun nampak dan nyata terjadi dalam lingkungan kehidupan kita sebagai persekutuan umat beriman. Umat seringkali merasa bosan dan malas ketika Pastor terlalu lama berkhotbah atau ketua umat terlalu lama menyampaikan informasi/ warta gereja. Yang kita butuhkan adalah penyampaian yang sedikit namun mengandung makna dan arti dalam kehidupan kita.

Berdoa merupakan kesempatan bagi kita untuk dapat berjumpa dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan menjadi saat yang khusus untuk menyampaikan segala sesuatu yang menjadi pergumulan hidup kita. Karena doa menjadi saat dimana kita berjumpa dengan Tuhan, maka tentunya doa merupakan saat yang istimewa dan kudus.

Menyadari hal ini, maka sesungguhnya keagungan doa kita menjadi sarana dalam mengungkapkan isi hati yang tulus kepada Tuhan atas segala sesuatu yang dialami. Maka hendaklah doa yang kita sampaikan kepada Tuhan tidaklah bertele-tele. Itu sebabnya, Tuhan Yesus dengan penuh kasih mengajarkan doa Bapa Kami sebagai contoh doa yang sempurna. Kesempurnaan doa Bapa Kami termuat pada kata-kata yang mencerminkan bahwa kita hendaknya memuliakan Allah dan memohonkan kesejahteraan dalam kehidupan setiap hari.

Doa Bapa Kami mencerminkan bagaimana cara mengampuni kesalahan dan keterbatasan orang lain. Dengan demikian, doa Bapa Kami merupakan penggenapan dari seluruh permohonan kita dan menjadi doa yang sempurna. Kesempurnaan doa Bapa Kami tidak serta merta menjadikan doa-doa dan permohonan kita yang disampaikan secara spontan menjadi tidak berarti. Melainkan Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana mendaraskan dan mengucapkan doa yang baik dan benar tanpa harus bertele-tele.

Sebab sesungguhnya doa yang baik dan benar adalah doa yang memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan. Karena yang dibutuhkan dalam doa adalah ketulusan dari hati, dalam menyampaikan dan mendaraskan doa bukan pikiran.

Oleh karena itu keterbukaan, ketulusan hati dan kepasrahan diri seutuhnya kepada Tuhan merupakan sikap yang paling penting dan mendasar dan paling utama dalam doa kita. Kita boleh menyatakan keinginan kita kepada Tuhan. Tetapi pada akhirnya kita hendaknya menyerahkan permohonan kita kepada kehendak dan rancangan ilahi.

(Fr. Bryan Resubun)

“Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah” (Mat. 6:7a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah hamba-Mu agar mampu berdoa secara baik dan benar dan mampu menerima apa pun yang terjadi dalam kehidupanku, baik suka maupun duka. Semoga hamba-Mu senantiasa mencari kehendak-Mu dalam setiap peristiwa hidupku. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini