HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA (P).
2Sam. 7:4-5a,12-14a,16; Mzm. 89:2-3,4-5,27,29; Rm. 4:13,16-18,22; Mat. 1:16,18-21,24a.
Ada ungkapan, “banyak bicara tetapi sedikit berbuat,” atau “sedikit bicara tetapi banyak berbuat.” Kedua ungkapan ini memiliki nilai atau makna yang berbeda. Ungkapan pertama sering diartikan negatif. Sedangkan ungkapan yang kedua sering diartikan positif. Orang menuntut sebuah tindakan yang nyata bukan sekedar kata-kata saja.
Ada ungkapan lain lagi yang lebih sederhana namun besar maknanya, yakni “diam itu emas.” Diam bukan berarti tidak berbuat apa-apa, tetapi diam untuk mendengar dan berbuat.
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Santo Yusuf suami Santa Maria. Dalam Kitab Suci tidak banyak ditemukan kisah tentang Santo Yusuf, bahkan tidak satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Itulah juga sebabnya, Santo Yusuf sering digambarkan dengan orang yang diam. Namun dalam sikap tersebut, ia menunjukkan kesetiaannya dalam menanggapi kehendak Allah.
Injil hari ini pun mengisahkan Yusuf yang berada dalam situasi dilema. Ia diperhadapkan dengan kondisi Maria yang sedang mengandung tanpa bersetubuh dengannya. Bahkan ia berencana untuk menceraikan Maria.
Namun, Tuhan menghalaunya melalui malaikat-Nya dalam mimpi. Kemudian memberi Yusuf sebuah perintah. Dan Yusuf pun berbuat sesuai dengan apa yang disampaikan oleh malaikat dalam mimpinya. Dengan mengambil Maria sebagai isterinya. Hal ini menunjukkan, bagaimana Yusuf hanya diam, tetapi dalam kediamannya, ia mendengarkan Sabda Tuhan dan dengan tulus melaksanakannya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak sekali peristiwa yang membuat kita merasa cemas. Maka ketenangan hati merupakan hal penting, agar bisa mendengarkan bisikan Tuhan. Bisikan itu akan menjadi sesuatu yang menggembirakan, jika kita dengan tulus hati dan taat melaksanakannya. Sebab, kegembiraan sejati ada dalam Tuhan.
Santo Yusuf pun menunjukkan ketenangan, kesetiaan dan sikap ketaatannya pada kehendak Allah. Karena ketenangan, kesetiaan dan ketaatan hatinya pada kehendak dan rencana Allah, ia telah mengalami kedamaian dan ketenteraman dalam hidup.
Kedamaian dan ketenteraman itu pula boleh kita rasakan saat ini. Kita pun dapat belajar bagaimana memperoleh kedamaian dan ketenteraman dalam hidup. Kita tidak perlu banyak bicara melainkan diam untuk menerima Sabda Tuhan dan setia serta taat dalam melaksanakannya.
(Fr. Valentino Pandelaki)
“Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat. 1:20).
Marilah berdoa:
Ya Allah, bukakanlah hatiku agar aku dapat mendengarkan bisikan-Mu dan dengan setia dan taat melakukan kehendak-Mu. Amin











