“Sadar & Berbenah Diri”: Renungan, Kamis 20 Februari 2020

0
2935

Hari Biasa (H)

Yak. 2:1-9; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7; Mrk. 8:27-33

Setiap orang tentu pernah mengalami suasana dan peristiwa suka dan duka. Sukacita yang nyata misalnya memenangkan sesuatu atau memperoleh hasil yang baik. Dukacita seperti ketika seseorang mengalami kecemasan, kegelisahan, ketakutan atau kemarahan. Dalam dunia sekarang ini, begitu banyak godaan menghimpit kita manusia. Bahkan merasuki banyak orang dengan segala kemewahan dan kekayaan yang ada di dunia ini. Kadangkala juga kedukaan datang silih berganti dengan kesukacitaan.

Bacaan pertama menegaskan bahwa manusia perlu menyadari dirinya masing-masing dengan segala kelebihan dan kekurangan. Penegasan ini nyata dalam bacaan hari ini: “Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?”.

Dalam bacaan pertama Rasul Yakobus hendak mengingatkan dan mengajak manusia untuk menyadari dirinya masing-masing. Jangan terbuai dengan kekayaan atau harta seseorang. Sedangkan orang miskin jangan dilengserkan. Kita perlu berbenah diri untuk masuk dalam perintah dan ajaran Tuhan yang semestinya.

Bacaan Injil hari ini menyadarkan kita sebagai ciptaan Allah. Bahwa identitas Yesus menjadi cerminan bagi kita. Dikatakan bahwa “Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari”. Artinya bahwa sikap Yesus terhadap orang banyak ialah sangat rendah hati. Kemiskinan yang dialami Yesus adalah rela berkorban demi menebus dosa-dosa manusia. Ia tidak menganggap diri kaya dan mewah. Tetapi sungguh menyadari misteri Allah yang ada dalam diri-Nya. Kita  diajak untuk meneladani sikap Yesus itu yang tampil dalam Injil hari ini.

Oleh sebab itu, jangan pernah menganggap diri sendiri yang terbaik dan terhebat. Sehingga mengesampingkan orang-orang kecil dan miskin. Kita disadarkan oleh Yesus bahwa kita sama-sama berjuang untuk mencapai kebaikan yang nantinya berguna bagi banyak orang di dunia ini.

(Fr. Kani Lenak)

“Jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam kitab suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik” (Yak. 2:8).

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, mampukanlah kami semua untuk menyadari dan berbenah diri agar hidup kami menjadi layak di hadapan-Mu dan bisa membantu oranmg lain. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini