“Pikul Salibmu dan Ikutlah Yesus”: Renungan, Sabtu 1 Februari 2020

0
2621

Hari Biasa (H)

2Sam. 12:1-7a, 10-17; Mzm. 51:12-13,14-15, 16-17; Mrk. 4:35-41

Saudara-saudari sekalian, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid: “Marilah kita bertolak ke seberang”. Tanpa berpikir panjang, para murid pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Yesus. Dalam perjalanan bersama Yesus, para murid ketakutan karena ombak dan angin yang begitu kencang.

Karena rasa takut yang begitu besar, maka mereka pun membangunkan Yesus yang saat itu sedang tidur. Lalu Yesus bangun, Ia menenangkan ombak dan angin kencang tersebut, sehingga situasi menjadi aman kembali. Setelah semua tenang, Yesus mengajukan pertanyaan kepada para murid: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”.

Ajakan Yesus untuk bertolak ke seberang merupakan bagian dari panggilan untuk mengikuti Dia. Bacaan Injil menceritakan bahwa yang pergi mengikuti Dia bukan hanya satu perahu, melainkan ada beberapa perahu lainnya. Ini berarti bahwa panggilan yang Yesus serukan, bukan hanya sebatas panggilan kepada para murid, melainkan juga kepada semua orang yang ada di situ.

Mereka yang pergi mengikuti Yesus berarti telah membuat keputusan untuk menjadikan Yesus sebagai penunjuk arah kehidupan mereka. Mereka siap mengikuti Yesus ke mana pun Yesus akan membawa mereka. Percaya bahwa Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup, maka mereka berani mengatakan ya untuk panggilan Yesus tersebut.

Dalam perjalanan itu datanglah ombak dan angin yang sangat kencang. Situasi itu membuat mereka semua sangat ketakutan. Dalam keadaan demikian, maka mereka membangunkan Yesus dan Yesus menenangkan ombak dan angin itu. Melihat sikap mereka yang sangat ketakutan, Yesus langsung mengajukan pertanyaan yang menuntun mereka untuk melihat kembali bahwa berjalan bersama-Nya, semua akan baik-baik saja.

Saudara-saudari sekalian, jawaban ya terhadap panggilan Kristus, tidak cukup untuk menjadikan kita sebagai pengikut yang sejati. Setuju untuk mengikuti Kristus, berarti kita juga harus siap untuk segala tantangan dan rintangan sebagai konsekuensinya. Menjadi pengikut Kristus tidaklah mudah. Kita harus mampu memikul salib kita masing-masing. Ketakutan untuk menghadapi badai dan ombak kehidupan tetap akan kita rasakan.

Tapi pertanyaan Yesus kepada para murid, meminta kita untuk percaya bahwa, dalam situasi demikian kita tidak berjalan sendiri. Jawaban awal ya terhadap panggilan Kristus, menjadi pegangan bagi kita bahwa Yesus ada di samping kita, ada bersama-sama dengan kita, untuk melewati segala rintangan dan tantangan yang ada di depan kita.

(Redaksi Lentera Jiwa)

Diam! Tenanglah! Lalu angin itu reda dan danau menjadi teduh sekali” (Mrk. 4:39).

Marilah Berdoa:

Ya Allah, mampukanlah diriku untuk memikul salibku bersama-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini