Hari Biasa (H)
2Sam. 7:4-17; Mzm. 89:4-5,27-28,29-30; Mrk. 4:1-10
Perkembangan dunia saat ini menghadirkan begitu banyak tawaran bagi manusia. Berbagai bentuk kesenangan, kemewahan, kemegahan duniawi yang menggiurkan begitu menggoda manusia agar memilikinya. Tak bisa dipungkiri bahwa tak sedikit orang yang mempertaruhkan imannya demi mendapatkan hal itu.
Penginjil Markus melalui Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang empat bentuk iman manusia. Menariknya bahwa Yesus dalam kisah Injil ini mewartakan tentang empat bentuk iman itu dalam dua konteks yang berbeda. Secara terang-terangan Ia menjelaskannya kepada para murid, namun kepada orang banyak itu ia gambarkan di dalam sebuah perumpamaan.
“Orang pinggir jalan”, “tanah berbatu”, serta “semak berduri” menunjukkan suatu sikap iman yang abal-abal dan munafik. Sabda kebenaran Allah itu diterima tetapi kemudian diabaikan begitu saja. Ada yang seperti iman orang pinggir jalan yang hanya mendengarkan Sabda Allah lalu kemudian memilih hidup di dalam jalan kegelapan.
Ada yang mempunyai iman seperti jalan berbatu. Imannya itu hanya nampak saat ia berada di zona aman saja. Namun ketika muncul penindasan, siksaan, apalagi ancaman untuk dibunuh maka imannya itu menjadi kendor. Bahkan bukan hanya kendor tetapi memang hilang. Mereka tidak mampu menjadi apologet untuk membela iman mereka.
Satu bentuk lain yakni iman semak berduri. Sabda Allah yang diterimanya dibiarkan bertumbuh begitu saja di dalam himpitan godaan duniawi. Semak duri sebagai ancaman agar imannya itu bertumbuh dan menghasilkan buah dibiarkan begitu saja. Kekayaan, kekuasaan, kenyamanan dan kebahagiaan duniawi dijadikan prioritas membuat apa yang Allah kehendaki agar diperbuatnya terabaikan begitu saja.
Padahal bentuk iman yang dikehendaki oleh Allah yaitu iman “tanah yang subur”. Ia menghendaki agar setiap pribadi menjadi seperti tanah yang subur sehingga Sabda-Nya itu dapat hidup di dalam diri tiap-tiap pribadi. Allah menghendaki agar segala bentuk tawaran duniawi tidak dijadikan sebagai prioritas melainkan Sabda-Nya itulah yang dijadikan sebagai prioritas. Allah sesungguhnya mau agar Sabda-Nya itu didengarkan dan kita mencari apa sebenarnya yang dikehendaki-Nya untuk kita perbuat. Sebab, ketika Sabda Allah itu didengarkan dan dilaksanakan maka keamanan, perlindungan, damai sejahtera, dan keselamatan akan dikaruniakan bagi kita.
(Fr. Filbert Ngafrehen)
“Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu” (2Sam. 7:9a)
Marilah berdoa:
Tuhan, imanku kepada-Mu semakin bertumbuh dan membuatku melaksanakan perintah-Mu dengan kesungguhan hati.











