“Sungguh Mengenal Allah”: Renungan, Senin 30 Desember 2019

0
2198

Hari Keenam Dalam Oktaf Natal (P)

1Yoh. 2:12-17; Mzm. 96:7-8a,8b-9,10; Luk.2:36-40.

Ada sebuah tradisi dalam kehidupan orang Yahudi, di mana seorang anak sulung laki-laki, maupun binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan hewan, biasanya dikuduskan bagi Tuhan (bdk. Kel. 13:1-16). Hal ini dihidupi berdasarkan Hukum Musa. Yusuf dan Maria juga merupakan seorang Yahudi dan menghidupi tradisi tersebut. Tuhan Yesus merupakan anak sulung mereka. Oleh karena itu, Yesus dibawa oleh Yusuf dan Maria ke Bait Allah untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Ketika Tuhan Yesus dipersembahkan di Bait Allah, seorang nabi perempuan yang sudah lanjut umurnya datang dan berbicara mengenai Tuhan Yesus. Nabi perempuan itu bernama Hana. Ia seorang janda berumur delapan puluh empat tahun dan sehari-harinya mengunjungi Bait Allah, beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Ia merupakan salah seorang sisa Israel yang rendah hati, lemah lembut, mencari perlindungan pada Allah, tidak akan melakukan kelaliman dan tidak berbicara bohong (Zef. 3:12-13). Seperti kaum Israel lainnya, nabi Hana juga sangat merindukan dan menantikan kehadiran Mesias, Sang Penyelamat. Pengenalan nabi Hana terhadap Tuhan Yesus sangatlah tepat. Nabi Hana tahu bahwa Penyelamat yang dijanjikan telah datang dan sedang dipersembahkan di Bait Allah. Karena itu, nabi Hana datang ke Bait Allah dan mengucap syukur kepada Allah. Ia berbicara mengenai Anak itu kepada orang-orang yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem.

Saat ini orang kristiani sementara merayakan sukacita Natal. Tuhan Yesus telah lahir dan semua makhluk bersukacita atasnya. Namun, pertanyaannya, apakah manusia benar-benar mengenal Tuhan Yesus yang lahir itu? Apakah perayaan yang begitu meriah, dengan semarak pernak-perniknya, benar-benar dilaksanakan karena pengenalan yang sesungguhnya akan Allah yang lahir? Ataukah, semua itu diadakan semata-mata hanya sebagai perayaan seremonial atau sekedar mengikuti kebiasaan dan keramaian belaka?

Tuhan Yesus penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada pada-Nya (Luk. 2:40). Ia datang ke dunia membawa keselamatan bagi manusia. Tetapi, bila manusia tidak mengenal Dia secara utuh, maka sulitlah keselamatan itu sampai kepada manusia. Belajar dari nabi Hana, kita bisa mencapai pengenalan yang utuh akan Tuhan Yesus. Beberapa sikapnya bisa kita teladani seperti Selalu beribadah dengan berpuasa dan berdoa, rendah hati, lemah lembut, selalu mencari perlindungan pada Allah, tidak melakukan kelaliman dan tidak berbicara bohong menjadi jalan baginya untuk dapat mengenal Tuhan Yesus. Semoga kitapun dapat menghidupi hal-hal tersebut agar dapat mengenal Tuhan Yesus dengan baik. Mengenal Tuhan Yesus dengan baik dapat menciptakan relasi yang intens dengan-Nya dan keselamatan yang ditawarkan oleh-Nya dapat sampai kepada manusia.

(Fr. Theodorus Michael Palit)

“Siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa” (Luk. 2:37).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah aku untuk semakin mengenal Engkau. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini