“Beriman”: Renungan, Sabtu 28 Desember 2019

0
2122

Pesta Kanak-kanak Suci, Mrt (M) Hari Keempat dalam Oktaf Natal   

1 Yoh. 1:5-2:2; Mzm. 124:2-3,4-5,7b-8; Mat. 2:3-18

Tipe seorang disebut beriman sejati adalah dia yang selalu mengaktualisasikan iman dalam tindakan sehari-hari. Hal ini bahkan ditegaskan oleh Rasul Paulus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Kehendak Rasul Paulus ini untuk mempertegas bagi para pengikut Kristus atau yang beriman kepada-Nya. Tujuan penegasan Paulus tersebut adalah demi kemuliaan Kristus dan kita tetap memperoleh keselamatan melalui iman akan Kristus itu juga, sehingga beriman tanpa tindakan nyata adalah suatu kebohongan besar.

Rasul Yohanes mempertegas dalam suratnya bahwa iman kepada Yesus membutuhkan sebuah kejujuran. Kejujuran adalah tonggak dalam memperkuat kesatuan kita dengan Kristus Yesus sumber keselamatan kita. Penegasan Rasul Yohanes ini mempertegas bahwa ketika kita beriman, kita perlu sadar diri tentang bagaimana kita yang berdosa akan selalu ditebus bilamana kita jujur dalam tindakan hidup kita. Yesus yang kita imani sebagai pengantara, akan selalu menuntun hidup kita pada kebenaran. Karena itu, keselamatan menjadi buah pengharapan bagi orang yang berlaku jujur dalam keseharian hidupnya. Bagaimana beriman secara jujur itu nyata? Hal ini nyata ketika kita berani atau tanpa takut menyatakan dalam tindakan kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan pengantara kita pada keselamatan. Selain itu, kita harus sadar diri bahwa realitas hidup kita penuh resiko yang besar untuk mengatakan kejujuran. Namun, ketika kita berani menyatakan kejujuran itu, kita dapat diselamatkan karena pengantara kita yakni Yesus Kristus hadir sebagai pengampun dan pendamaian untuk dosa kita.

Berani mengambil resiko demi memperjuangkan iman melalui tindakan, mengingatkan kita pada anak-anak tak berdosa yang menjadi korban kekejaman raja Herodes. Kendati tak berdosa mereka rela mati demi memperjuangkan kehadiran Yesus. Pengantara kita hadir di dunia untuk menyelamatkan seluruh manusia secara nyata. Pesta kanak-kanak Yesus yang kita rayakan bahkan menjadi sebuah analogi atau pembanding terhadap cara beriman kita akan Tuhan yang sekaligus menantang kaum muda, orang tua dan siapa saja untuk menyadari bahwa beriman kepada Tuhan tidak perlu takut, melainkan tetap berlaku jujur dan sadar diri bahwa iman yang diaktualisasikan secara jujur dapat mempersatukan kita dengan Yesus.

(Fr. Edward Salilo)

“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran” (1 Yoh. 1:6).

Marilah berdoa:

Tuhan, tambahkan imanku untuk selalu jujur dalam mewartakan kebenaran iman akan Dikau. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini