“Siapa Sumbernya?”: Renungan, Jumat 15 November 2019

0
1827

Hari Biasa (H)

Keb.13:1-9;Mzm.19:2-3,4-5;Luk.17:26-37

Ada seorang ibu yang kesehariannya berjalan dari desa yang satu ke desa yang lainnya sambil “jual- suara” demi memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarganya. Setiap pukul 15.00 atau pukul tiga sore, ia berkeliling perumahan warga untuk menjual kue yang dibuatnya. Oleh karena ketertarikan orang dengan relasi yang dibuatnya selama menjual jualannya itu dan tentu cita rasa kue itu sesuai dengan selera lidah banyak orang, sehingga jualannya itu laris manis. Suatu ketika, ibu itu sudah tak bisa lagi jualan oleh karena dirinya sudah merasa tak mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Akibatnya, pelanggannya merasa ada sesuatu yang lain dan tak biasanya kalau-kalau ibu itu sudah tak jualan lagi. Akhirnya, ibu itu memutuskan untuk membuatkan saja kue-kue itu tapi kemudian untuk proses penjualannya, dimintakan bantuannya kepada cucunya supaya bisa menjual kue itu. Sambil berjalan keliling kampung, cucu itu mencari cara, supaya bisa membuat jualan neneknya itu dapat laku terjual habis. Rata-rata orang yang membeli kue itu selalu bertanya dari mana kue ini dan siapa yang membuatnya. Kue itu pun terjual habis.

Pengalaman itu memberi inspirasi mengenai sang sumber atau siapa si pembuat barang atau makanan tersebut. Kecenderungan orang bertanya seperti itu untuk memastikan orangnya oleh karena kepercayaan yang sudah dimilikinya. Hal-hal seperti itu, membuka kemungkinan besar bagi seseorang untuk memiliki daya tarik tersendiri atau memiliki perasaan untuk memiliki barang atau makanan yang dijual itu. Kepercayaan terhadap segala sesuatu itu, membuat si pembeli merasa nyaman untuk menikmatinya dan kualitas barang atau makanan itu sudah terjaga serta terpercaya.

Bacaan-bacaan hari ini memberi gambaran tentang bagaimana datangnya Kerajaan Allah, sehingga orang mulai bertanya-tanya tentang sumber itu; tentang keberadaannya, pengenalannya, dan seolah-olah sumber itu hanya menjadi ‘ilusi’ bagi mereka yang tidak mempercayainya karena hanyalah dianggap sebagai berhala-berhala. Pengharapan dan kepercayaan serta keberpihakan kepada Allah sunguh-sungguh memberi keyakinan bahwa setiap orang yang lapar akan dikenyangkan, yang haus akan dipuaskan, dan yang tidak berpengharapan akan diberi sukacita dan damai sejahtera. Mereka yang tidak sungguh-sungguh mengenal Allah sang sumber kehidupan itu, tidak mengenal juga jalan kebenaran dan keselamatan yang ditawarkan Allah. Mereka yang mengenal siapa sang sumber itu, pada akhirnya bisa menikmati kebahagiaan dan keselamatan bagi dirinya; kualitas yang dimiliki oleh sumber itu pun tetap terjaga dan tetap menjadi terpercaya.

(Fr. Michael Terok)

“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 17:33)

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah aku untuk lebih mengenal-Mu sebagai sumber kehidupan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini