Hari Biasa (H)
Rm. 13:8-10; Mzm. 112:1-2,4-5,9; Luk 14:25-33
Dalam hidup sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan tentang “kasih tak bersyarat”. Ada orang yang mengartikan ungkapan ini sebagai sebuah keikhlasan tanpa mengharapkan balasan. Juga ada yang mengartikannya sebagai penerimaan diri dari segala sesuatu yang merugikannya tanpa berpikir untuk membalasnya.
Sebagai manusia, terkadang kita hanya mengasihi orang-orang yang mengasihi kita. Namun apakah kita pernah berpikir untuk mengasihi orang lain yang tidak mengasihi kita? Misalnya musuh atau orang-orang yang sering menyakiti kita.
Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang kasih. Bacaan pertama mengungkapkan bahwa kasih adalah kegenapan Hukum Taurat. Sebab semua aturan yang terdapat dalam Hukum Taurat seperti jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri dan firman-firman yang lain sudah tersimpul dalam firman, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
Sedangkan lewat bacaan Injil, Yesus mengajak kita agar mampu mengikuti-Nya dengan penuh kasih. Namun kasih yang diminta bukan hanya sekedar kasih, tetapi kasih yang radikal atau kasih yang penuh dengan pengorbanan.
Seorang pengikut Kristus adalah seorang yang mampu mengasihi Kristus lebih dari segala-galanya. Untuk itu ditegaskan, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”.
Hal ini semata-mata bukan sebagai sebuah ajaran supaya kita membenci keluarga atau diri sendiri. Melainkan melalui ungkapan ini kita diajak untuk menempatkan cinta kepada Tuhan sebagai dasar cinta bagi orang lain. Cinta kepada Yesus haruslah dipandang sebagai motivasi untuk mencintai orang lain.
Motivasi untuk mencintai Yesus juga harus berdasar pada pilihan bebas yang matang. Oleh sebab itu, penginjil memberikan dua perumpamaan. Perumpamaan yang pertama tentang, seorang pembangun yang bijak. Sedangkan perumpamaan yang kedua tentang seorang raja yang hendak pergi berperang.
Dua perumpamaan ini hendak menegaskan bahwa menjadi murid Yesus tidak serta merta mengikuti-Nya begitu saja, tetapi dibutuhkan kematangan dan persyaratan sehingga dengan demikian kita menjadi pantas sebagai murid-Nya.
Oleh sebab itu menjadi pengikut Kristus haruslah secara total, tidak setengah-setengah. Namun sebelum mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh, setiap orang terlebih dahulu harus mempertimbangkan secara bebas. Maka setiap murid harus siap sedia memikul salib dan terus belajar dari Yesus, untuk hidup seperti yang diteladankan-Nya.
(Fr. Frederikus Babaubun)
“Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:27).
Marilah berdoa:
Tuhan, bantulah saya agar dapat memikul salib, dan layak untuk mengikuti-Mu. Amin.











