“Setia dalam Doa”: Renungan, Minggu 20 Oktober 2019

0
5214

Hari Minggu Biasa XXIX (H)

Kel.17:8-13; Mzm. 121:1-2,3-4,5-6,7-8; 2Tim. 3:14-4:2; Luk. 18:1-8.

Iman merupakan tanda kepercayaan kita kepada Allah. Setiap orang beriman dituntut untuk memasrahkan dirinya secara utuh kepada Allah. Hal itu terjadi karena Allah selalu setia kepada umat-Nya. Allah tidak pernah mengingkari orang yang beriman kepada-Nya. Allah menginginkan umat-Nya untuk bertekun dalam doa. Hal itu terjadi karena doa menjadi tempat kita berjumpa dengan Allah. Kesetiaan dalam berdoa menjadi bukti penyerahan diri yang utuh kepada Allah.

Pengalaman bangsa Israel berperang melawan bangsa Amalek menjadi bukti kesetiaan Allah bagi umat-Nya. Melalui Musa, Allah menunjukkan penyertaan-Nya kepada bangsa Israel. Ketika Musa mengangkat tangannya, makin kuatlah bangsa Israel. Tetapi apabila Musa menurunkan tangannya, makin kuatlah bangsa Amalek. Demikianlah terjadi dalam peperangan tersebut, Musa mengangkat tangan demi kemenangan bangsanya. Mengangkat tangan berarti memohon pertolongan dari Tuhan dalam doa. Tak dapat dipungkiri ada berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh Musa. Kepenatan menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi. Kemenangan bangsa Israel tak dapat dilepaskan dengan kesetiaan Musa untuk senantiasa berdoa kepada Allah.

Dalam Injil, Tuhan Yesus mengajarkan para murid untuk setia dalam doa. Hal itu dinyatakan-Nya dalam perumpamaan tentang hakim yang lalim. Seorang hakim yang tidak takut kepada siapa pun bahkan kepada Allah pasrah dan mengabulkan permintaan dari seorang janda. Kuncinya adalah kesetiaan dari janda tersebut untuk tidak jemu-jemu meminta kepada hakim. Allah kita jauh lebih baik dan berbelas kasih dari hakim tersebut. Satu hal yang diminta kepada kita adalah berdoa dengan penuh kesetiaan. Tuhan Allah akan membenarkan orang yang berseru-seru kepada-Nya dalam kesetiaan.  Bagi orang yang setia berdoa, pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya.

Rasul Paulus berpesan kepada kita untuk tetap setia berdoa kepada Allah dan berpegang pada kebenaran. Kesetiaan akan membuat kita menjadi orang-orang milik Allah. Sebagai orang-orang milik Allah, kita semua diperlengkapi dengan Kitab Suci. Kitab Suci itulah yang memberikan hikmat dan akan menuntun  kita kepada  keselamatan oleh iman akan Tuhan Yesus. Oleh karena itu, kita diajak untuk setia mewartakan Sabda Allah, memiliki sikap kesiapsediaan, berani menyatakan kebenaran dan berani untuk menegur dan menasehati dengan penuh kesabaran.

(Fr. Dkn. Malvin Karundeng)

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk. 18:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, dengarkanlah seruan doaku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini