Hari Biasa (H)
Rm. 5:12, 15b, 17-19, 20b-21; Mzm. 40:7-8a, 8b-9, 10, 17; Luk. 12:35-38
Peribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga” barangkali sudah terdengar akrab di telinga orang Indonesia. Peribahasa ini hendak mengungkapkan bahwa karena sebuah kesalahan, semua hal menjadi kacau. Ungkapan ini kiranya dapat dikontekstualisasikan dengan pengalaman dosa manusia pertama yang disinggung dalam bacaan pertama hari ini.
Oleh karena satu pelanggaran dan satu dosa dari satu orang di dunia, seluruh dunia menjadi tercemar dengan dosa. Dengan demikian maut menjadi konsekuensi yang tak luput bagi manusia. Pada awalnya, yang sebenarnya dialami manusia adalah kebahagiaan abadi semata-mata bersama Allah, namun akibat kedosaan manusia, ia harus turut mengalami kesengsaraan dan maut.
Meskipun demikian, manusia harus bersyukur karena Allah adalah mahasempurna: rasa cinta yang tak terukur bagi manusia dan kemurahan hati-Nya yang tanpa batas tak dapat dibanding-bandingkan dengan sejumlah dosa yang dilakukan manusia. Karena cinta dan kemurahan hati-Nya yang mahasempurna, Allah tak segan-segan menawarkan kebahagiaan yang dulu pernah dirasakan manusia.
Untuk itu, Allah merencanakan proyek penyelamatan manusia yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, Putra-Nya. Oleh karena Kristus, dunia yang penuh dosa dan kesengsaraan mulai dipenuhi dengan kasih karunia Allah. Oleh karena penebusan Kristus, manusia memiliki harapan untuk memulihkan relasi antara dirinya dengan Allah yang rusak karena dosa. Tinggal bagaimana manusia menanggapi tawaran keselamatan yang diberikan oleh Allah.
Bacaan Injil hari ini memberi petunjuk bagi manusia tentang bagaimana menyikapi tawaran keselamatan dari Allah. Kita dapat mengandaikan bahwa sikap berjaga-jaga yang dimaksudkan dalam bacaan Injil adalah keadaan bersih dari dosa. Namun, sikap tobat semata-mata belum sempurna. Apa gunanya kita bertobat tanpa adanya buah-buah yang dihasilkan? Pertobatan harus disertai dengan tindakan-tindakan nyata.
Kata-kata mazmur hari ini mengungkapkan dengan jelas tindakan-tindakan pertobatan yang sejati: kita perlu melaksanakan kehendak Allah, merenungkan setiap firman-Nya, dan mewartakan kasih dan keselamatan Allah kepada setiap orang. Dengan demikian, kita siap untuk menantikan kedatangan Tuhan serta memperoleh kebahagiaan dan keselamatan kekal dari pada-Nya.
(Fr. Giovani Gosal)
“Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan…” (Mzm. 40:11)
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarkanlah kami untuk menjadi pewarta cinta kasih dan kebenaran-Mu.











