“Allah-lah Kebahagiaan”: Renungan, Sabtu 12 Oktober 2019

0
2835

Hari Biasa (H)

Yl. 3:12-21; Mzm. 97: 1-2,5-6,11-12; Luk. 11:27-28

Pada masa ini banyak yang bertanya, “Apa itu kebahagiaan?” Terdapat banyak jawaban atas pertanyaan ini. Ada yang mengatakan kebahagiaan adalah saat di mana kita berkelimpahan harta. Saat kita selalu tersenyum. Saat kita menjadi terkenal. Saat kita hidup bebas dan tidak melakukan apa-apa, tetapi hidup kita terjamin. Atau semua yang kita butuhkan tersedia. Itulah arti kebahagiaan yang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar kita.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah kebahagiaan menurut manusia. Akan tetapi apa sebenarnya kebahagiaan menurut Tuhan sendiri. Melalui Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang arti kebahagiaan itu. Yesus menegaskan dalam Injil Lukas 11:28: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang memelihara-Nya”. Mendengar pernyataan Yesus ini, tentu kita merasa aneh. Mengapa? Karena konsep kebahagiaan yang kita mengerti sangat bertolak belakang dengan konsep kebahagiaan yang difirmankan Tuhan Yesus.

Dalam  keempat Injil pun, sering ditemui adanya firman bahwa, kita harus mengasihi musuh. Memberikan semua harta yang kita miliki kepada orang miskin dan mengikuti Tuhan. Ketika ditampar di pipi sebelah kiri berikan juga yang sebelah kanan. Dan masih banyak lagi perintah Tuhan yang secara manusiawi sangat sulit dan tidak mudah untuk dilakukan. Kita tentu bertanya-tanya, “Apakah hal-hal yang sangat sulit dan mustahil untuk dilakukan itu dapat membantu kita mencapai kebahagiaan?”

Ada pepatah yang mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Pepatah ini walaupun sederhana mempunyai makna yang sangat mendalam. Sebenarnya maksud dari pepatah inilah yang dimaksudkan oleh Yesus sebagai kebahagiaan sejati.

Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan surgawi. Sebab kebahagiaan di dunia hanyalah kebahagiaan yang sementara. Sedangkan, kebahagiaan di surga adalah kebahagiaan sejati yakni kebahagiaan yang kekal dan selamanya. Dan untuk mencapai kebahagiaan surga tentu kita harus melaksanakan firman Tuhan.

Walaupun susah, bahkan harus melalui jalan yang sempit, kita harus berusaha melewatinya. Sebab kebahagiaan surga bukanlah suatu kebohongan atau omong kosong semata. Melainkan suatu harapan yang nyata dan pasti. Seperti sebuah kalimat indah yang mengatakan, “Neraka itu pahit tapi jalannya manis sedangkan surga itu manis akan tetapi jalannya pahit”.

(Fr. Antonius Sadulia)

Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang memelihara-Nya (Luk. 11:28)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan,  kuatkanlah aku, agar aku kuat untuk melaksanakan Firman-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini