“Pandanglah Salib Tuhan” : Renungan, Sabtu 14 September 2019

0
2130

Pesta Salib Suci (M)

Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:2-11; Yoh. 3:13-17

Dalam bacaan pertama dikisahkan tentang dosa, akibat ketidaktaatan dan ketidakpercayaan umat Israel kepada Allah. Ujung dari segala hal tersebut yaitu kematian. Menarik bahwa di balik peristiwa pertentangan antara umat Israel dengan Allah, hanya ada satu orang yang bertobat, berbalik dari dosa dan percaya kepada Allah. Dikatakan lebih lanjut bahwa, pertobatan mereka diterima oleh Tuhan ketika mereka memandang ular tembaga.

Lewat bacaan pertama Allah sesungguhnya mau lebih memperkenalkan diri-Nya yang Maha Pengampun kepada umat Israel. Maka pantaslah pemazmur berkata bahwa kejujuran dalam bercerita tentang hidup adalah akibat  pengenalan akan Allah yang telah menerima umat-Nya apa adanya. Teladan Yesus Kristuslah yang menjadi acuan dalam mempersatukan umat Allah. Teladan Kristus dapat dilihat saat Ia mengosongkan diri. Yesus mengosongkan diri-Nya, karena sepanjang hidup dan masa pelayanan-Nya, Ia yang sekalipun adalah Allah yang sejati, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah  sebagai milik yang harus dipertahankan.

Bacaan Injil mengajak untuk melihat karya Salib suci itu sebagai penunjang kehidupan kekal. Hari ini umat Katolik di seluruh dunia merayakan Pesta Salib Suci. Pesta ini dirayakan dengan maksud untuk memperingati penemuan Salib Yesus oleh Sta. Helena. Pesta Salib Suci yang dirayakan sebagai peringatan akan peristiwa Yesus yang disalibkan untuk menebus dosa umat manusia. Pesta salib suci dikhususkan untuk merayakan karya salib itu sendiri sebagai instrumen keselamatan. Dengan demikian, ketika manusia memandang salib suci itu, manusia meninggikan salib yang mulia dan percaya bahwa salib itu adalah pemberi kehidupan bagi umat manusia.

Di balik peristiwa salib inilah, Allah tidak ingin manusia tetap hidup dalam dosa. Allah ingin manusia tidak binasa dalam dosa. Maka, konsekuensinya manusia hanya dapat mengalami keselamatan apabila menerima cara penyelamatan dari Allah sendiri. Cara yang dapat dilalui yaitu melalui Allah Bapa yang mengutus Yesus, Putra-Nya dan memberi roh ke dalam hati manusia, memperbaharui diri untuk beriman kepada Yesus serta menerima salib Kristus sebagai jalan keselamatan.

(Fr. Andreas Lalin)

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-15).

Marilah Berdoa :

Ya Tuhan, ampunilah dosa kami dan tunjukanlah jalan kepada kami menuju pertobatan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini