“Mulutmu Ialah Jeratmu”: Renungan, Jumat 13 September 2019

0
2072

PW. St. Yohanes Krisostomus, UskPujG (P)

1Tim. 1:1-2,12-14; Mzm. 16:1,2a,5,7-8,11; Luk. 6:39-42

Tidak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pernah jatuh dalam dosa. Semua orang dalam dirinya pasti memiliki kesalahan.

Hari ini melalui Injil, Yesus hendak menunjukkan kepada semua umat beriman bahwa tindakan main hakim sendiri merupakan suatu hal yang tidak wajar bahkan tidak layak. Yesus mau supaya setiap orang beralih dari sikap saling merendahkan. Yesus menghendaki umat-Nya supaya saling menaruh cinta kasih terhadap sesama dan mau untuk merangkul yang bersalah serta menuntun kembali kepada jalan yang benar.

Introspeksi diri merupakan salah satu hal yang harusnya dimiliki oleh setiap insan. Dengan mengintrospeksi dirinya, orang mau untuk melihat kembali ke dalam dirinya dan dengan rendah hati mau mengakui bahwa ia juga merupakan manusia yang tidak luput dari salah dan dosa. Tidaklah baik jikalau melihat orang lain dengan pandangan negatif.

Yesus menegur sikap yang seringkali munafik dan merasa diri benar. Seringkali orang hanya mau menilai seseorang baik dan benar jika menguntungkan orang tersebut. Tetapi, kalau ada setitik kesalahan, timbullah berbagai bentuk cibiran, hinaan, makian yang akhirnya memojokkan orang bahkan terkesan mengasingkan orang dari lingkungan hidupnya.

Ingatlah bahwa “mulutmu adalah jeratmu”. Hari ini engkau menghakimi orang lain, tetapi akan tiba saatnya, dimana engkau akan dihakimi, dihina dan diasingkan pula. Yesus mengajarkan kepada untuk selalu memeriksa diri, pikiran, tutur kata, dan segala tindakan.

Pantaslah belajar dari rasul Paulus, yang dengan rendah hati mengakui segala kesalahannya dan menyerahkan hidupnya kepada penyelengaraan Tuhan. Jika mau melihat latar belakang Paulus sebelumnya, dia merupakan seorang “penjahat” yang hendak memusnahkan umat Allah. Tetapi, berkat kerendahan hati dan kemauan untuk bertobat, akhirnya Allah mengasihaninya. Malahan, kasih karunia Tuhan itu dikaruniakan dengan limpahnya kepadanya dengan iman dan kasih dalam Kristus.

Hari ini, Gereja Universal memperingati Santo Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja. Yohanes Krisostomus telah menunjukkan bahwa hidup bukan untuk menghujat, menghina dan merendahkan atau menghakimi orang lain. Melainkan hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan itu, hendaklah digunakan untuk mewartakan kebaikan Allah dan mengasihi sesama, tanpa menghakimi.

 (Fr. Johanis Raharusun)

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”  (Luk. 6:41)

Marilah berdoa:

Bapa, anugerahkanlah sikap saling mengasihi kepada kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini