“Kemuliaan dari Korea”: Renungan, Jumat 20 September 2019

0
2334

Pw St. Andreas Kim Taegŏn, St. Paulus Chŏng Hasang, dkk Mrt-Korea (M)

1Tim. 6:2c-12; Mzm. 49:6-7,8-9,17-18-20;Luk. 8:1-3

Saudara-saudariku yang dikasihi Tuhan. Di mata dunia, Korea merupakan negara yang memiliki peradaban yang kaya akan budaya baik yang tradisional maupun popular. Anak muda sekarang sangat mencintai kebudayaan popular yakni film-film drama Korea ataupun penyanyi group-bandnya. Namun di balik itu semua ada satu fakta yang dapat membanggakan kita sebagai orang katolik. Korea merupakan salah satu negara di Asia yang memiliki popularitas katolik yang berkembang pesat. Konon demografinya orang menjadi katolik per tahun lebih banyak presentasinya. Keunikan ini tentu tidak terlepas dari pada apa yang Gereja rayakan pada hari ini.

St. Andreas Kim Taegon Imam dan Paulus Chong Hasang, dkk., adalah martir: darah, serta kemuliaan kemartiran bersinar melalui mereka atas negara tersebut. St. Andreas Kim Taegon merupakan imam diosesan Korea dan Paulus Chong Hasang merupakan seorang katekis. Dia bersama teman-teman yang lain rela mati untuk membela dan mempertahankan iman Kekristenan mereka sampai harus mati di tangan penguasa yang menolak iman tersebut.

Saudara-saudariku yang terkasih, zaman sekarang dunia kita didominasi dengan kenyamanan duniawi, cinta terhadap uang, kenikmatan hawa nafsu, dengki, curiga dan fitnah. Akibatnya, sulit sekali menemukan martir-martir di era modern seperti para martir Korea, apa lagi pada kenyataannya Gereja sekarang tidak lagi dikejar-kejar. Lalu masih adakah peluang untuk menjadi martir?

Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengajarkan kita untuk menjadi martir modern dengan mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Kita diajak untuk bertanding dalam pertandingan iman untuk merebut hidup yang kekal. Hal tersebut dapat kita lihat dalam bacaan Injil tentang perempuan-perempuan yang melayani Yesus. Perempuan-perempuan  itu juga memiliki masa lalu yang terikat dengan roh-roh jahat. Namun berkat kekuatan hati dan semangat untuk menjadi orang yang dikehendaki Allah mereka dibebaskan dari ikatan roh jahat.

Sementara, perempuan yang lain melayani para pengikut Yesus dengan kekayaan mereka. Berkat berkelimpahan tidak mereka gunakan sendiri tetapi dibagi-bagikan demi kemuliaan nama Allah sendiri. Menjadi martir adalah kemampuan untuk berani berkorban demi melayani Allah, tanpa terikat kenikmatan-kenikmatan duniawi, tanpa jatuh ke dalam perasaan untung rugi, tapi dengan iman melihat bahwa kehidupan kita di dunia hanyalah sementara. Maka hal yang patut untuk dibuat bukan berlomba-lomba hidup dengan nyaman tapi berlomba-lomba untuk hidup kekal bersama Dia.

(Fr. Aldo Lolong)

“Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kelayakan mereka” (Luk. 8:3b)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkan aku oleh karena kemuliaan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini