“Ingat Orang Lain”: Renungan, Minggu 22 September 2019

0
2725

Hari Minggu Biasa XXV (H)

Am. 8:4-7; Mzm. 113:1-2,4-6,7-8; 1 Tim. 2:1-8; Luk. 16:1-13 (Luk. 16:10-13)

Bahagia melihat orang susah dan susah melihat orang bahagia. Satu prinsip negatif yang terkadang dijumpai dalam diri seseorang. Orang yang hanya mau menikmati sendiri kebahagiaan. Atau egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Apakah orang yang berbuat demikian mengalami kebahagiaan?

Ternyata tidak. Hal demikian telah dilukiskan oleh nabi Amos. Orang-orang yang mementingkan dirinya sendiri akan diperingatkan Allah, bahkan Allah tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka (bdk. Am.8:7). Satu peringatan untuk mereka yang menginjak-injak orang miskin, yang membinasakan orang sengsara, dan mengambil keuntungan yang besar. Bukankah semua itu perbuatan yang keji?

Bendahara yang tidak jujur malahan menunjukkan hal sebaliknya. Meskipun dicap sebagai bendahara yang tidak jujur, tetapi dia telah bertindak dengan cerdik. Di tengah persoalan yang dihadapi dia masih ingat dengan orang lain. Meskipun tindakannya terkesan untuk menyelamatkan dirinya agar tidak dipecat, tetapi di satu sisi dia telah memberikan keringanan kepada orang lain. Maksud untuk keselamatan diri berimbas baik kepada orang lain. Sebab itu bendahara yang tidak jujur dikatakan cerdik. Cerdik dalam arti memberikan kelegaan kepada orang lain di saat dirinya mengalami kesulitan.

Itulah kecerdikan anak-anak dunia yang lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. Satu tindakan yang ingat akan orang lain. Itulah yang juga diharapkan oleh rasul Paulus. Menaikkan doa permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur untuk semua orang. Itulah yang berkenan kepada Allah. Sebab Allah sendiri menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Tidak larut dalam kesenangan pribadi, tetapi bersyukur bersama dengan orang lain. Satu bentuk aplikasi nyata yang bisa dilakukan untuk mewujudkan kehendak Allah. Allah sendiri menghendaki agar semua orang diselamatkan, mengapa kita tidak?

Terkadang tidak mau peduli menjadi racun yang mematikan dalam relasi dengan sesama. Mengutamakan kepentingan diri sendiri dan mengabaikan yang lain. Relasi yang dibutakan oleh kekayaan, tanpa mau melihat orang lain di sekitar. Memiliki segalanya menjadi impian setiap orang, tetapi tidak semua orang mampu bersyukur dan mau berbagi dengan orang lain. Kita ditantang untuk ingat akan saudara-saudara kita yang lemah. Hidup tidak sendirian, masih ada orang lain di sekitar kita. Ingatlah mereka dan bertindaklah terhadap mereka sesuai kehendak Allah.

(Fr Dkn. Made Pantyasa)

“Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang” (Luk. 16:8).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah kami berbuat baik kepada sesama. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini