“Harta”: Renungan, Minggu 29 September 2019

0
2578

HM Biasa XXVI (H)

Am 6:1a,4-7; Mzm 146:7,8-9a,9bc-10; 1Tim 6:11-16; Luk 16:19-21

Media sosial Youtube kerap dihebohkan dengan konten Social Experiment yang mana ada seorang youtuber terkenal menyamar menjadi seorang gelandangan. Dalam video tersebut dipertunjukkan si youtuber yang telah menyamar mendekati orang-orang yang makan di restoran mahal. Orang-orang pun segera menjauhinya bahkan ada yang mengusirnya keluar.  Situasi pun berubah ketika ia membuka identitasnya. Sekejap banyak orang mengerumuninya dan bahkan meminta foto dengan si youtuber tersebut. Gambaran ini menampilkan suatu kenyataan tentang begitu lemahnya kepedulian kita terhadap sesama yang miskin dan terbuang.

Dalam Injil, Yesus memberikan perumpamaan tentang si miskin yang disebutnya sebagai “Lazarus” (artinya Tuhan menolong) dan seorang Kaya. Lazarus mewakili gambaran orang-orang miskin, kecil, dan terbuang. Gambaran tentang Lazarus mengingatkan suatu kenyataan tentang sulitnya orang yang dengan rela hati mau tergerak menolong sesama yang berkekurangan. Yang disebut Orang Kaya dalam perumpamaan tersebut bukan mau menunjuk semua orang yang kaya pada saat ini. Namun mewakili setiap orang yang seluruh hidupnya terarah kepada dirinya sendiri. Pikiran dan tujuan hidup mereka hanya untuk kebahagiaan mereka sendiri. Mereka sulit memikirkan orang lain apalagi berbelaskasih kepada orang-orang yang kecil. Gambaran si kaya ini mewakili pribadi yang mau mengejar harga duniawi namun lupa dari mana sumber kebahagiannya tersebut. Yesus sangat jelas mau mengingatkan orang-orang semasa akan pentingnya mau peka terhadap kehidupan sosial dan yang terpenting bagi orang-orang yang berkekurangan.

Dalam kehidupan, Tuhan hadir sebagai sang keadilan. Harta adalah hasil dari keadilan Tuhan terhadap manusia. Manusia yang berjuang keras dalam hidupnya akan memperoleh harta sebagai upahnya.  Namun perlu disadari bahwa harta bukan satu-satunya hal yang perlu dikejar dalam kehidupan. Tentang itu Rasul Paulus kepada Timotius menegaskan: “Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal”  (1Tim. 6:11-12).

Saudara, harta duniawi adalah hadiah dari kerja keras hidup kita di dunia. Kehidupan saat ini sangat tergantung dengan hal itu. Namun di balik itu semua, kita juga perlu sadar bahwa itu bukan yang terutama. Hari ini kita diajak untuk menyadari bahwa harta yang kita miliki perlu juga dipergunakan sebagai sarana membagi kasih dan kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan. Jika itu terwujud perlahan-lahan kita pun telah mengarahkan diri pada hidup kekal yang dijanjikan Tuhan kepada kita.

(Fr. Angelo Cheryl Tanod)

“Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”  (Luk. 16:25).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah hati anak-anak-Mu ini peka terhadap sesama. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini