“Perjanjian”: Renungan, Jumat 16 Agustus 2019

0
2357

Hari biasa (H)

Yos. 24:1-13; Mzm. 136:1-3,16-18,21-22,24; Mat. 19:3-12

Perjanjian merupakan suatu kesepakatan yang dibuat antara satu pihak dengan pihak yang lain. Perjanjian biasanya selalu memuat dua hal: terpenuhi dan tidak terpenuhi atau ingkar janji. Dalam perjanjian akan ada dua konsekuensi, yakni: merasa bahagia karena janji ditepati dan merasa sedih karena janji tidak ditepati.

Bacaan Injil hari ini menampilkan sosok Yesus yang dicobai oleh orang Farisi. Orang Farisi mencobai Yesus dengan menanyakan apakah bisa menceraikan isteri ? Dalam persekutuan Gereja Katolik, pertanyaan ini mengarah pada pengingkaran janji. Gereja melihat bahwa pernikahan merupakan pengikatan janji antara laki-laki dan perempuan. Pernikahan di dalam Gereja Katolik adalah suatu tanda kehadiran Allah di antara laki-laki dan perempuan. Kehadiran Allah itulah yang oleh Gereja disebut sebagai sakramen. Allah hadir dan menguduskan janji yang telah dibuat oleh kedua insan, laki-laki dan perempuan.

Karena sucinya suatu perjanjian pernikahan, dengan tegas Yesus melarang adanya perceraian. Barangsiapa menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah. Berzinah menjadi sebuah pelanggaran yang sangat berat dan mendatangkan hukuman lahiriah yaitu dirajam. Alasannya perjanjian dalam pernikahan bukan sekedar komitmen manusiawi melainkan melibatkan Allah sebagai pemersatu sekaligus sebagai saksi dalam hubungan suci ini. Perjanjian di hadapan Allah memuat sebuah nilai yang suci dan membutuhkan komitmen seumur hidup. Perjanjian yang demikian adalah janji ilahi, yaitu perjanjian dengan Allah.

Pun dalam Kitab Yosua, Tuhan tetap memakai manusia sebagai pengantara Dia dengan umat-Nya. Perjanjian yang dibuat oleh Allah dengan nenek moyang bangsa Israel yakni Abraham, Ishak dan Yakub terus dipelihara. Pembaharuan dilakukan-Nya dengan tetap melibatkan manusia. Dengan begitu nampaklah betapa besar kasih setia Allah kepada manusia  seperti yang diungkapkan oleh pemazmur. Allah yang setia itu tidak pernah mengingkari janji yang dibuat-Nya walaupun manusia seringkali menyeleweng dari janji dan ketetapan Allah.

Kesetiaan dalam perjanjian itu perlu. Rumah tangga menjadi teladan bagi setiap umat-Nya untuk melihat setiap komitmen yang didasarkan pada cinta ilahi. Kesetiaan yang sejati dibangun atas dasar kasih dan kesetiaan itu akan tetap kokoh. Allah menjadi sumber kasih bagi kesetiaan akan perjanjian antar insan. Dan Dia menjadi sumber perjanjian bagi setiap manusia di dunia.

 (Fr. Andris Yosua Sumigar)

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm. 136:1)

Marilah Berdoa:

Ya Bapa, perintah-Mu adalah kewajiban bagiku untuk menjalankannya. Ajarlah aku yang sering lalai dalam menjalankannya supaya kuat dan setia. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini