“Layakkah Aku?”: Renungan, Kamis 22 Agustus 2019

0
2356

Pw SP Maria, Ratu (P) BcE

Hak. 11:29-39a; Mzm. 40:5,7-8a,8b-9,10; Mat. 22:1-14

Pengalaman ketika masih bersekolah membuat banyak orang selalu mengenang masa lalu mereka. Apalagi kalau pengalaman atau kenangan itu sangat bermakna atau berkesan bagi diri mereka. Pengalaman ketika bersekolah pasti ada banyak, dan pengalaman ini tidak lepas dengan satu kata yang sederhana namun bermakna. Apa itu? Itulah “layak”. Seringkali ketika kita di sekolah, kita dikeluarkan dari kelas, karena tidak layak masuk kelas. Kelayakan kita di sekolah, bergantung pada peraturan yang telah dibuat oleh sekolah itu. Hal ini menandakan bahwa manusia akan selalu berhadapan dan berhubungan terus-menerus dengan situasi yang layak bagi dirinya pun dalam dirinya.

Bacaan Injil hari ini dilukiskan, bahwa sebagai orang yang percaya kita harus merasa layak supaya bisa berhadapan dengan Tuhan. Kelayakan itu sangat penting dan hal itu menjadi alat ukur di dalam diri kita. Hal ini akan menunjukkan tentang keseriusan kita, ketika kita menghadap Tuhan, Allah kita. Untuk itulah, tuan pesta dalam bacaan Injil sangat marah, ketika mengetahui bahwa ada tamu yang tidak layak untuk mengikuti pesta. Bahkan tuan pesta dalam bacaan Injil berkata: “Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.

Kelayakan memang sangat diperlukan, apalagi kalau kita mau berhadapan dengan Tuhan. Diri kita yang kotor dan dipenuhi dengan dosa ini perlu untuk dilayakkan supaya akan mampu berhadapan dengan Tuhan. Pun demikian, kelayakan diri kita harus diusahakan terus-menerus di dalam dunia ini, sebelum kita bertemu dengan Yang Mahakuasa.

Orang yang layak di hadapan Tuhan akan berseru seperti pemazmur: “Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan”. Seharusnya pernyataan ini senantiasa bergema di dalam hati dan pikiran kita, sebagai orang yang percaya.

Kehidupan sebagai orang Kristen memang perlu diperjuangkan dan dipertahankan. Apalagi kalau berbicara tentang kelayakan diri. Dunia yang baru dengan pemikiran serta cara pandang yang baru akan membuat perjalanan iman semakin sulit. Untuk itu, bagi kita orang Kristen sangat diperlukan sikap keteladanan, untuk memperjuangkan kelayakan hidup di hadapan Allah.

(Redaksi LJ)

“Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan” (Mzm. 40:5).

Marilah berdoa:

Tuhan, ampunilah kami yang seringkali tidak layak berhadapan dengan Engkau. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini