“Kesombongan Manusia”: Renungan, Senin 19 Agustus 2019

0
2297

Hari biasa (H)

Hak. 2:11-19; Mzm. 106:34-35,36-37,39-40,43ab,44; Mat. 19:16-22

Setiap manusia pasti mempunyai kebutuhan yang dapat menjamin kelangsungan hidup. Kebutuhan itulah yang selalu mendorong manusia untuk selalu berusaha. Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan bahwa ada seorang muda yang kaya, yang datang kepada Yesus dan berkata, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah perintah Allah.”

Kata orang itu kepada-Nya, “Perintah yang mana?” Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, janagn mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayah dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Lalu orang itu berkata kepada Yesus, “Semua itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kemudian Yesus berkata, “Jikalau engkau ingin sempurna pergilah dan juallah harta milikmu.” Setelah mendengar apa yang dikatakan Yesus kepadanya, pergilah orang itu dengan hati sedih karena ia mempunyai harta yang banyak.

Kisah ini mau menampilkan dua hal, pertama sikap sombong manusia dan kedua sikap ketergantungan dengan harta duniawi. Terkadang kesombongan membutakan kita, sehingga kita cenderung tidak menganggap orang lain adalah bagian dari hidup kita. Kesombongan terkadang timbul dalam diri kita, karena kita mempunyai kekayaan harta benda. Orang yang sombong dengan apa yang dimiliki terkadang melupakan bahwa segala yang ia miliki adalah karunia Allah yang ditipkan kepadanya. Keberadaan harta duniawilah yang membuat banyak orang terjerumus ke dalam pencobaan, jika orang salah mempergunakannya.

Harta yang dimiliki oleh orang muda itu menjadi penghalang baginya dalam memperoleh hidup yang kekal. Hal ini menampakkan kepada kita bahwa kebanyakan orang cederung tergoda dengan adanya harta duniawi. Namun kita harus tahu bahwa harta duniawi hanya bersifat sementara saja. Kita sebagai manusia harus sadar bahwa kita adalah manusia lemah, sehinga jangan sampai menjadi hamba dari harta duniawi, melainkan menjadi orang yang selalu bertanggungjawab atas apa yang Allah berikan kepada kita. Maka sebaiknya kita harus mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah, agar kita memperoleh hidup yang kekal.

(Fr. Sardianus Salambai)

 “Jikalau engkau ingin sempurna pergilah dan juallah harta milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau memperoleh harta di surga” (Mat. 19:21).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, berilah kami kerendahan hati agar kami dapat memperoleh hidup yang kekal. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini