“Keselamatan Kekal”: Renungan, Minggu 25 Agustus 2019

0
2703

Hari Minggu Biasa XXI (H)

Yes. 66:18-21; Mzm. 117:1,2; Ibr. 12:5-7, 11-13; Luk. 13:22-30.

 “Habis gelap terbitlah terang”. Semboyan dari R. A. Kartini yang masih menggema sampai saat ini. Gambaran tentang perjuangan yang harus terus dikobarkan sehingga mampu bangkit dari keterpurukan, bangkit dari kelemahan, untuk menatap masa depan yang cerah.

Gema yang serupa juga dikisahkan oleh nabi Yesaya. Masa depan yang cerah dipersiapkan oleh Tuhan untuk orang-orang yang mau berjuang dan berharap pada-Nya. Hukuman yang mendatangkan siksaan bukanlah akhir dari segalanya. Allah mempersiapkan hadiah istimewa kepada orang yang mau setia. Sebab, Allah akan mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang dan melihat kemuliaan-Nya (Bdk. Yes.66:18). Keselamatan kekal itulah yang akan dialami oleh orang-orang yang patuh pada perintah-Nya.

Keselamatan akan dialami oleh orang-orang yang tidak putus asa. Surat kepada orang Ibrani telah melukiskan itu. Tuhan selalu menghajar orang yang dikasihi-Nya, sehingga kelak mereka menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (bdk. Ibr.12:6,11). Tuhan tidak menghendaki orang pilihan-Nya larut dalam dukacita dan kesedihan. Ia berharap semua yang dipanggil-Nya bangkit dan mengalami sukacita itu.

Nampaknya pertanyaan dari seseorang dalam Injil, menjadi pertanyaan kita juga dalam hidup. Kadang merasa putus asa sebab sering merasa gagal atas apa yang dilakukan. “Tuhan sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Merasa pesimis atas apa yang dijalani. Terasa perjuangan sia-sia dan tidak ada gunanya. Tuhan Yesus memperingatkan agar orang-orang yang percaya kepada-Nya berjuang untuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab banyak orang akan berusaha tetapi tidak dapat (bdk. Luk.13:24). Ajakan ini menunjukkan betapa pentingnya berjuang bersama Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Berjalan bersama-Nya bukan hanya untuk mencari kesenangan semata lalu pergi. Tuhan mau mengajak orang-orang selalu setia kepada-Nya. Apalah gunanya jika pernah makan dan minum di hadapan-Nya lalu pergi? Yang dibutuhkan bukan menjadi penikmat kesenangan saja tetapi kemampuan untuk mewartakan karya keselamatan Allah. Sebab itulah yang akan menjadi upah bagi orang yang mau berjuang bersama-Nya.

Tak jarang kita mengalami kegagalan, dukacita dan pergumulan sehingga terkadang merasa Tuhan meninggalkan kita. Tetapi sebaliknya, sadarkah kita berapa banyak waktu yang telah kita baktikan untuk-Nya? Bangkitlah dari kegagalan, berjuanglah dari kelemahan, maka duka cita akan menjadi sukacita, kegelapan akan menjadi terang, dan ganjaran keselamatan kekal menjadi rahmat istimewa untuk kita.

(Fr. Made Pantyasa)

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!” (Luk. 13:24).

Marilah berdoa:

Tuhan, berilah kami kekuatan untuk selalu setia kepada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini