Pw. S. Pius X, Paus (P)
Hak. 9:6-15; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mat. 20:1-16a
Sifat iri hati cenderung dimiliki oleh setiap manusia. Iri hati muncul karena ada sesuatu yang tidak beres, tidak seimbang dan tidak adil. Gereja Katolik sendiri dalam ajarannya menempatkan sifat ini sebagai salah satu dari tujuh dosa pokok. Iri hati pada dasarnya merupakan sifat negatif manusia yang berdampak bagi diri sendiri dan orang lain.
Persoalan inilah yang Yesus angkat lewat perumpamaan dalam Injil suci hari ini. Yesus mengibaratkan Kerajaan Allah itu seperti seorang pemilik kebun anggur. Ia mempekerjakan para pekerja dalam beberapa pergantian waktu yang berbeda. Sesuai kesepakatan, mereka diberi upah yang sama yakni, sedinar sehari.
Persoalan yang muncul adalah sikap iri hati para pekerja yang memiliki waktu kerja lebih lama dari yang lain. Para pekerja pertama bersungut-sungut kepada pemilik kebun anggur karena mereka merasa diperlakukan secara tidak adil. Sang pemilik kebun anggur sendiri ditampilkan sebagai seorang yang bijaksana. Ia justru berpegang pada apa yang telah disepakati. Dalam hal ini justru Ia bertindak secara adil. Ia bebas mengasihi siapa saja. Ia bebas mempergunakan seluruh miliknya. Ia adalah Tuhan.
Dalam hidup sehari-hari, kita juga persis mengalami seperti apa yang diibaratkan oleh Yesus itu. Ketika berada di tengah-tengah komunitas sosial entah itu lingkungan masyarakat, sekolah, dunia kerja, Gereja dan sebagainya. Kita seringkali jatuh pada sikap iri terhadap orang lain. Kita meminta keadilan. Banyak kali, sifat ini muncul karena kita merasa tidak diperlakukan secara adil. Sikap inilah yang mau ‘dibongkar’ oleh Yesus hari ini.
Kita diberkati tetapi enggan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Kita bahagia tetapi enggan membahagiakan orang lain. Kita sukses tetapi enggan mendukung kesuksesan orang lain. Kita berkelebihan tetapi enggan berbagi dengan orang lain. Kita berbeda tetapi enggan solider dengan perbedaan yang ada.
Kita lupa bahwa Bapa yang menganugerahkan segala yang kita miliki adalah juga Bapa yang tidak membeda-bedakan orang. Ia amat mencintai manusia dan segala ciptaan-Nya. Kemurahan hati-Nya tak terbatas pada satu orang atau satu kelompok tertentu saja. Maka, jika kita diberi berkat yang sama dalam hidup, masihkah kita iri terhadap berkat orang lain?
(Fr. Ray Legio Angelo Lolowang)
“… iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat. 20:15b).
Marilah berdoa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk menjauhkan diri dari sikap iri terhadap sesama kami supaya kami tidak jatuh dalam dosa. Amin











