Hari biasa (H)
Rut 1:1,3-6,14b-16,22; Mzm. 146:5-67,8-9a,9bc-10; Mat.22:34-40
Hari yang indah senantiasa didambakan oleh setiap orang. Mereka mendambakan hari itu, karena bagi mereka hari yang indah adalah yang utama dalam kehidupan mereka. Pun kita sebagai orang Kristen selalu menantikan Yang Utama itu, khususnya berkat dari Yang Utama itu.
Bacaan Injil hari ini bercerita tentang hukum yang utama. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, Manakah hukum yang utama?” Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang pertama. Hukum yang kedua, yakni“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.
Bacaan Injil telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa manusia harus mendekatkan diri mereka kepada Tuhan. Dengan demikian, setiap manusia harus menghormati sesamanya. Dengan bersikap dan bertindak demikian, setiap manusia telah menjalankan hukum yang utama. Dan kedua hukum ini bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel, tetapi berlaku juga bagi setiap manusia. Karena hal ini menyangkut relasi antara Pencipta-ciptaan dan sesama ciptaan.
Menghormati Tuhan adalah penting. Dan ini pun diserukan oleh pemazmur: “Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar”.
Kita sebagai orang Kristen, orang yang percaya kepada Tuhan, Pencipta langit dan bumi, seharusnya sangat menghayati hukum yang utama ini. Kita telah diajarkan bagaimana bersikap yang baik dan benar kepada sesama manusia. Pun kita telah mengetahui bahwa hanya satu Allah, sebagai pencipta manusia dan segala yang ada di dalam dunia ini. Namun zaman yang baru dengan berbagai cara pandang yang baru seringkali membuat iman kita kepada Tuhan jatuh. Kita pun sebagai ciptaan-Nya merasa tidak layak lagi disebut sebagai anak-anak-Nya.
Maka kita sebagai orang Kristen hendaknya mempunyai cara yang baru untuk mewartakan iman kita. Tuhanlah yang utama dan tak tergantikan. Mencintai-Nya sungguh mutlak. Sesamalah rekan seperjalanan kita kita untuk berziarah menuju Tuhan. Mencintai sesama pun sungguhlah mutlak. Mencintai Allah dan sesama bagaikan dua kepak sayap rajawali. Dengan kedua sayap itu, rajawali akan dapat terbang tinggi, berhadapan dengan angin kencang, dan menukik tajam.
(Redakasi LJ)
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37)
Marilah berdoa :
Tuhan, ampunilah kami, orang-orang yang kurang percaya ini. Amin











