“Persatuan”: Renungan, Selasa 4 Juni 2019

0
3124

Hari Biasa Pekan VII Paskah (P)

Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11,20-21; Yoh. 17:1-11a

Perpecahan ada di mana-mana. Di keluarga-keluarga, sering terjadi perpecahan karena perebutan warisan. Di daerah Minahasa, sering terjadi perkelahian antar kampung yang membawa perpecahan. Di negara Timur Tengah atau Afrika, para pemimpin saling berebut kekuasaan yang mengakibatkan perang dan perpecahan di berbagai negara lainnya. Aneka macam perbedaan sering juga menjadi pemicu perpecahan atau perang. Sejarah membuktikan bahwa tidaklah mudah untuk menciptakan persatuan.

Injil hari ini berisi doa Yesus bagi Gereja. Yesus mendoakan supaya Gereja-Nya bersatu, menjadi tanda persatuan bagi dunia yang tercabik-cabik perpecahan. Tidak cukup kalau hanya Yesus diwartakan; perlu juga supaya dunia melihat bahwa di tengahnya Gereja bersatu padu. Gereja Katolik berarti Universal. Dalam Gereja tidak seorang pun adalah orang asing. Gereja satu karena Roh yang dimilikinya satu dan sama serta arena persatuan para anggotanya yang nyata.

Sebagai anggota Gereja, umat Katolik dipanggil untuk membangun persatuan. Pada kenyataannya menciptakan persatuan tidak senantiasa mudah. Perlu perjuangan, doa dan juga kerendahan hati dari para pemeluknya. Bagi kita, membangun persatuan juga membutuhkan perjuangan dan mengupayakan terciptanya persatuan, harus dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga kita masing-masing. Kalau di keluarga kita bersatu dan rukun, di tetangga kita juga menciptakan kerukunan, maka semakin luas pula kerukunan dan kesatuan itu akan tercipta di antara kita.

(Fr. Thimoty Stevanus Tappi)

Aku berdoa untuk mereka (Yoh. 17:9a).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga kami tak jemu-jemunya mengupayakan terciptanya kedamaian dan kerukunan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini