“Kejujuran adalah Tantangan”: Renungan, Sabtu 15 Juni 2019

0
6551

Hari Biasa (H)

2Kor. 5:14-21; Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,11-12; Mat. 5:33-37

Saudara terkasih, kemampuan untuk bersikap jujur, merupakan hal yang sangat diidam-idamkan di dunia dewasa ini. Hal ini bukannya mau mengatakan bahwa jaman sekarang kejujuran atau mencari orang yang bersikap jujur sudah tidak ada lagi, melainkan semakin berkurang. Misalnya kita lihat saja pada mereka yang dipercayai untuk memimpin suatu pekerjaan, toh pada akhirnya ada juga dari antara mereka yang tidak jujur, misalnya korupsi dan sebagainya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini berbicara atau menyinggung soal kejujuran tersebut. Dalam Injil dikatakan bahwa: “Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di hadapan Tuhan ». Selain itu lebih lanjut dikatakan: “Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat ». Artinya bahwa, jika kita diperhadapkan pada hal kebaikan, keadilan, kejujuran, untuk apa kita berbohong lagi dan berusaha menutupi semuanya itu, seolah-olah persoalan tersebut sepele bagi kita. Padahal bagi Allah, hal-hal tersebut merupakan suatu keutamaan yang harusnya dilaksakan oleh umat-Nya.

Allah begitu menghendaki kita semua untuk bertindak jujur. Ia hendak melihat, apakah kita mau dan mampu untuk bertindak dan bersikap secara jujur. Menjadi persoalan bagi kita sekarang ini yakni, terkadang kejujuran tidak lagi menjadi suatu hal yang penting. Bukan lagi menjadi tolok ukur nilai kebaikan. Apa yang kita lakukan saat ini, terkadang jauh dari kata kejujuran. Bahkan pelaku kejujuran juga bisa dianggap sebagai lawan. Pada kenyataannya, ketika seorang yang baik hendak bertindak jujur, maka terkadang kita menganggap itu hanya sebatas ingin mencari nama belaka.

Kejujuran adalah tantangan bagi kita, terutama dalam menjalani hidup di dunia dewasa ini. Banyak hal yang akan melemahkan kita yang mau berkomitmen untuk jujur. Akan tetapi, itu semua tergantung pada pribadi kita masing-masing. Jika kita tidak secara bijaksana melihat, maka kita akan jatuh.

Sebaliknya jika kita lebih bijaksana melihatnya, maka di situlah kita mampu bekerja sama dengan Allah, dalam artian bahwa kita membiarkan Allah membantu kita untuk bersikap dan bertindak secara jujur. Kekuatan utama kita yakni, dengarkanlah Allah, biarkanlah Dia masuk dalam diri kita dan menjadi pengatur utama dalam hidup.

(Fr. Brelianus Susu Ndana)

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat » (Mat 5:37).

Marilah berdoa:

Bapa, ingatkanlah aku selalu, agar tetap setia dalam kejujuran. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini