“Jaminan Keselamatan”: Renungan, Rabu 12 Juni 2019

0
1947

Hari Biasa (H)

2Kor. 3:4-11; Mzm 99:5,6,7,8,9; Mat. 5:17-19

Saudara terkasih, setiap kehidupan yang dijalani tidak terlepas dari aturan-aturan hidup. Pelbagai peraturan yang dijalankan pasti menuntun pada keteraturan hidup, misalnya adanya aturan di rumah, sekolah, kantor dan lingkungan hidup yang berdampingan. Untuk mencapai keteraturan hidup itu, haruslah ada partisipasi aktif dari kita lewat menaati dan melaksanakanya. Hal ini tentu sudah diketahui lewat bimbingan orang tua, guru, dan sebagainya untuk mengingatkan kita tentang keteraturan tersebut.

Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang mengetuk hati, seraya mengajak orang-orang di bukit itu untuk janganlah “main-main” dengan hukum Taurat yang dijalankan dalam keberimanan mereka. Artinya hukum Taurat menjadi dasar aturan kehidupan iman maupun moral yang harus dihidupi. Tetapi sejak pelaksanaan misi Kerajaan Allah di dunia, banyak orang berasumsi (termasuk mereka yang hadir disitu) bahwa Yesus datang untuk menghapus atau meniadakan hukum Taurat yang telah menjadi dasar kehidupan iman dan moral mereka

Memang bahwa dalam hukum Taurat pun telah disuratkan berbagai nubuat para nabi termasuk kedatangan Anak Manusia, sehingga masyarakat yang hadir di situ pun berasumsi demikian. Ketika mereka tiba pada kebingungan dan asumsi yang keliru itu, di situlah Yesus mengungkapkan dengan cara lain tentang dirinya yang berasal dari Allah sebagai penggenapan dari hukum yang terlebih dahulu mereka hidupi. Hal ini mengungkapkan bahwa Hukum Taurat yang dipercayai, berasal dari Allah, dan Allahlah yang menggenapi hukum tersebut melalui Yesus agar menjadi sempurna.

Saudaraku terkasih, ajakan Yesus untuk mereka yang hadir di bukit itu, pun menjadi amanah pada hari ini, bahwa Yesus yang adalah Allah telah menggenapi dan menyempurnakan hukum dalam iman kita. Tetapi dibutuhkan partisipasi aktif dari setiap orang untuk taat dan melaksakan ajakan Yesus ini. Kadangkala kita tiba pada titik jenuh dalam hidup karena tidak taat pada hukum ajaran Tuhan, sehingga kejenuhan itu mempengaruhi pola pikir bahkan membawa kita pada kerajaan iblis yang membinasakan. Kemudian Yesus menunjukkan jalan keluar agar terbebas dari maut, yakni kesetiaan. Allah dari dahulu selalu setia pada kita sebagai yang dikasihi-Nya sehingga Dia memberikan aturan-aturan hidup keberimanan yang benar kepada kita. Begitupun Yesus mengajak kita untuk setia pada perintah Allah agar dapat memperoleh tempat yang tertinggi dalam Kerajaan Surga.

(Fr. Innocent Larat)

“Siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Hukum Taurat, ia menduduki tempat tertinggi dalam kerajaan Surga” (Mat. 5:19b).

Marilah berdoa:

Ya Allah, tuntunlah kami agar selalu setia kepada-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini