Pw S. Antonius dr Padua, Imam Pujangga Gereja (P)
2Kor. 3:15-4:1,3-6; Mzm. 85:9b-10, 11-12, 13-14; Mat. 5:20-26;
Ibadat yang dibenarkan oleh Allah itu sangat tergantung dari sikap batin atau keadaan hati kita. Artinya kalau di dalam hati kita masih tersimpan rasa dendam, marah, iri hati, permusuhan, jengkel dan lain-lain dengan orang lain, maka di mata Tuhan ibadat kita tidak mempunyai arti dan makna sedikit pun. Untuk itu, berdamai adalah jalan satu-satunya membereskan hubungan kita dengan orang lain. Baru dengan hati bersih itulah kita menghadap Tuhan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita kurang dan malah tidak menyadari bahwa berdamai itu penting. Akibatnya kita mengabaikan hal penting ini di mana kita tidak memeriksa batin terlebih dahulu setiap hari atau setiap hari minggu sebelum mengikuti Perayaan Ekaristi. Kita sering merasa bahwa itu bukanlah masalah yang serius. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Ini dikarenakan cara berpikir kita yang mengira bahwa ibadat itu dapat dilaksanakan hanya secara formal atau sekedar basa-basi dan kemudian menganggap akan mendapat berkat dari Tuhan secara otomatis. Banyak orang belum menyadari arti dosa. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak berdosa. Kita juga mengira bahwa menyembah berhala ketika menyembah pohon, menyembah patung dan percaya pada hal-hal tahyul saja. Padahal menyembah berhala bisa terjadi ketika kita menyingkirkan Tuhan dari kehidupan kita dan menukarkan Tuhan dengan keegoisan, gengsi, tinggi hati, keangkuhan serta mencurahkan hidup kita bagi hal-hal duniawi.
Demikian pula orang sering menafsirkan dosa membunuh itu berarti menghilangkan nyawa orang lain dengan kekerasan, senjata tajam atau dengan bom. Pada hari ini Tuhan Yesus mengubah cara berpikir atau paradigma kita dengan menerangkan bahwa dosa membunuh itu bukan hanya saja menghilangkan nyawa orang lain tetapi juga ketika kita membenci, mengumpat, dan marah-marah terhadap orang lain. Karena dosa bermula dari sikap hati. Maka orang yang membenci saudaranya itu berarti menyingkirkan saudaranya dari kehidupannya.
Dalam bacaan pertama, kita diingatkan oleh Rasul Paulus bahwa yang terpenting yaitu keinginan hati kita untuk berbalik kepada Tuhan sehingga kita dapat diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar. Sehingga kita bisa menjadi rahmat dan berkat bagi orang lain.
(Fr. Loiz Wazi)
“Sebab Tuhan adalah Roh, dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan” (1Kor. 3:17).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bantulah aku untuk mampu mengampuni orang lain. Amin











