“Arti Sebuah Doa”: Renungan, Kamis 20 Juni 2019

0
3907

Hari Biasa (H)

2Kor. 11:1-11; Mzm. 111:1-2.3-4.7-8; Mat. 6:7-15

 Kebanyakan orang Kristen ketika diminta untuk memimpin doa dalam sebuah pertemuan atau dalam kesempatan lainnya, sering merasa takut dan bahkan menolak permintaan itu dengan alasan yang bermacam-macam. Gugup, takut salah, atau tidak bisa berdoa karena tidak bisa menggunakan kata-kata yang bagus. Di sisi lain, justru ada orang yang berdoa dengan berkobar-kobar dan suara lantang, menggunakan kata-kata yang indah sehingga terasa bukan memohon, tetapi ‘memerintah’ Allah. Ada pula yang berdoa dengan menangis meraung-raung seolah-olah memintah perhatian khusus dari Allah akan permasalahan dan beban hidupnya. Tentu masih ada lagi berbagai macam cara berdoa, entah itu dijumpai atau hanya didengar cerita orang lain.

Hari ini, dalam bacaan Injil Yesus mengajarkan bagaimana harus berdoa. Sang Guru menegaskan kepada para murid-Nya supaya kalau berdoa jangan bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Terkabulnya sebuah doa tidak tergantung dari panjangnya kata-kata yang diucapkan atau lamanya orang berkata-kata. Sesungguhnya Allah sudah tahu apa yang akan umat-Nya butuhkan dari pada-Nya.

Selanjutnya, Yesus mengajarkan sebuah doa kepada para murid-Nya, doa yang singkat dan tidak bertele-tele yaitu doa yang khas dan mendarah daging di bibir orang Kristen, yaitu  doa ‘Bapa Kami’. Doa yang diajarkan Sang Guru ini mengandung suatu relasi yang dihayati dengan benar dalam hubungan dengan Allah dan juga dalam hubungan dengan sesama. Itu sebabnya, Yesus masih menekankan soal pengampunan terhadap sesama manusia.

Saudara terkasih, melalui pengajaran Yesus hari ini kiranya menjadi jelas bagaimana sesungguhnya harus berdoa. Anggapan bahwa doa adalah cara untuk menghadirkan kuasa Tuhan di dunia kuranglah tepat. Justru kuasa Tuhan bukan karena doa-doa kita melainkan karena Tuhan sendiri yang menghendakinya. Maksud, ketulusan, kepercayaan adalah yang utama dibandingkan untaian dan cara berdoa yang berapi-api dan lama. Memaksakan kehendak Tuhan dengan sebuah permohonan, ungkapan, atau doa yang panjang dan bertele-tele. Orang seperti itu adalah orang yang tidak benar-benar mengenal Allah. Berdoalah dengan kata-kata sederhana tetapi diungkapkan dengan ketulusan hati.

(Fr. Tinus Nifanngelyau)

“Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat. 6:8).

 Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku bisa belajar mengampuni dan menerima sesamaku dalam setiap doaku. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini