“Sukacita Orang Percaya”: Renungan, Rabu 15 Mei 2019

0
2532

Hari biasa Pekan IV Paskah(P)

Kis. 12:24-13:5a; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Yoh. 12:44-50.

Kepercayaan seseorang selalu berangkat dari satu atau beberapa tindakan, keberadaan dan pengalaman manusia bersama sesamanya. Sikap percaya berarti mengakui dan yakin bahwa sesuatu memang pada nyatanya benar.  Percaya mengandaikan juga bahwa sesuatu yang diharapkan atau diyakini tidak mengecewakan. Sehingga konsekuensi dari percaya adalah sukacita apabila yang dipercaya memang benar-benar terjadi. Sebaliknya percaya akan mendatangkan kekecewaan apabila yang dipercayai tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, terutama dalam bacaan Injil memperlihatkan Yesus sebagai utusan yang dapat dipercayai. Yesus berkata, “Barangsiapa percaya kepada-Ku ia percaya bukan kepada-Ku tetapi kepada Dia yang telah mengutus Aku dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku”. Perkataan ini hendak menegaskan tentang kesatuan Yesus dengan Bapa di surga. Yesus yang menyatakan diri-Nya sebagai utusan sekaligus juga menunjukkan jalan kebenaran yang dapat dipercaya. Dalam Injil hari ini sabda Kristus mengungkapkan arti kedatangan-Nya ke dalam dunia yang hadir di tengah-tengah manusia sebagai pembawa terang. Sebagai pembawa terang Yesus menunjukkan dua tujuan penting. Pertama, agar orang yang percaya kepada-Nya juga percaya kepada Bapa. Kedua, agar orang yang percaya kepada-Nya tidak hidup dalam kegelapan.

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal dalam kegelapan”. Dengan demikian kedatangan Yesus ke dunia merupakan tanda yang mengungkapkan bahwa Tuhan selalu menyertai mereka yang percaya. Sehingga percaya kepada Tuhan bukan sekadar bersyarat jika terpenuhi, maka percaya. Melainkan tanpa pamrih, yaitu dengan iman percaya kepada Yesus sebagai utusan yang akan tetap mendatangkan suka cita, bukan kekecewaan. Kepercayaan manusiawi akan mengalami kekosongan ketika berhadapan dengan situasi sulit dan tak kunjung mendapatkan jawaban. Namun kepercayaan dengan iman mendatangkan sukacita sebab setiap kesulitan dipandang sebagai sarana Tuhan memurnikan diri setiap orang, supaya layak menerima apa yang diharapkan. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita supaya bersyukur dan percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Seperti kata-kata pemazmur: “Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai karena Allah memberkati kita”.

(Fr. Perdianus Poida)

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh. 12:44).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, semoga makin hari kami semakin percaya kepada-Mu dan kepada Yesus Putera-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini