“Sukacita dalam Roh Kudus”: Renungan, Jumat 31 Mei 2019

0
2295

Pesta SP Maria mengunjungi Elisabet (P)

Zef. 3:14-18a atau Rm. 12:9-16b; MT Yes. 12:2-3,4-bcd,5-6; Luk.1:39-56

Hari ini Gereja Universal merayakan Pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabet saudaranya. Injil Lukas melukiskan peristiwa kunjungan Maria kepada Elisabet sebagai sebuah peristiwa yang penuh sukacita karena Roh Kudus turut berperan di dalamnya. Dikisahkan bahwa setelah Maria mendapat kabar sukacita, Maria berinisiatif untuk mengunjungi Elisabet saudaranya di Yehuda. Ketika Elisabet mendengar salam dari Maria, melonjaklah anak dalam rahimnya dan Elisabet penuh dengan Roh Kudus. Elisabet berkata kepada Maria: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk. 3:41-44).

Perkataan Elisabet yang penuh dengan Roh Kudus merupakan pengakuan terhadap peran bunda Maria dalam sejarah keselamatan. Elisabet memuji Maria sebagai seorang yang berbahagia, penuh rahmat dan penuh berkat dari Tuhan. Bahkan anak dalam Rahim Elisabet kegirangan karena tahu Sang Penyelamat telah datang.

Demikianpun, kitab Zefanya bersaksi dengan melukiskan pengakuan tersebut tentang Raja Israel, yang ada di antara umat Allah. Oleh sebab itu, Sang nabi mengajak seluruh umat untuk bersorak-soraklah dan tidak takut, sebab Tuhan Allahmu ada di antara mereka sebagai pahlawan yang memberi kemenangan (Zef 3:13-17).

Kesaksian ini terlaksana dalam diri Yesus Kristus yang bersemayam di dalam rahim seorang wanita dari Nazareth, sebagai pemenuhan dari segala kesaksian para nabi. Untuk itulah, Elisabet memuji Maria bukan karena saudaranya, melainkan karena kehadiran Yesus dalam rahimnya “diberkatilah buah rahimmu” (Luk. 1:42). Keberadaan Yesus dalam rahim Maria menandakan bahwa Tuhan memulihkan manusia sebagai ciptaan-Nya. Maria membawa Yesus kepada Elisabet dan Zakharia sebagai sukacita bagi mereka. Peristiwa Maria mengunjungi Elizabet menandakan bahwa dalam setiap kemalangan, cobaan dan tantangan Tuhan hadir memberikan sukacita-Nya bagi setiap orang.

Bunda Maria pada hari ini menjadi tanda yang nyata bagi setiap orang yang sedang mengalami pergumulan, kegalauan bahkan dukacita. Kerendahan hatinya yang rela menempuh perjalanan yang jauh hingga Yehuda, menandakan bahwa setiap orang yang ingin berbagi sukacita dengan sesama sama sekali tak pernah dibatasi oleh waktu, jarak apalagi status. Menjadi seperti Maria yang ikut mewartakan Allah yang menjadi manusia dan berbagi sukacita kiranya tetap bergemah di dalam hati dan tindakan setiap orang beriman.

(Fr. Petrus Serin)

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42).

Marilah berdoa:

Tuhan, jadikanlah kami sumber sukacita di tengah-tengah dukacita dan kemalangan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini