“Kamu Sahabat-Ku” : Renungan, Selasa 14 Mei 2019

0
1645

Pesta St. Matias, Rasul (M)

Kis. 1: 15-17. 20-26; Mzm. 113: 1-2. 3-4. 5-6. 7-8; Yoh. 15: 9-17.

Gereja universal hari ini merayakan pesta St. Matias Rasul. Seorang rasul yang dipilih untuk menggantikan posisi dari Yudas Iskariot yang berkhianat. Pemilihan ini dimaksudkan agar terpenuhilah nas kitab mazmur: “Biarlah jabatannya diambil orang lain”. Calonnya ialah seorang murid yang selalu bersama Yesus sejak pembaptisan-Nya sampai Ia naik ke surga. Sebab seorang rasul harus dapat bersaksi tentang sabda, karya dan kebangkitan Yesus. Maka diajukanlah dua orang murid, yakni Yosef yang disebut Barsabas atau Yustus, dan Matias.

Uniknya, para rasul justru membuang undi setelah berdoa untuk menentukan pilihan mereka dan bukannya dipilih bersama. Ini hendak menunjukkan bahwa pemilihan tersebut mutlak adalah kehendak Allah sendiri. Semenjak saat itu, terpilihlah Matias menjadi rasul dan mulai mengemban tugas mewartakan kebangkitan Kristus yang mulia jaya. Kualitas sebagai murid Yesus ditampakkan secara nyata dalam Injil. “Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu hamba, tetapi sahabat”.

Perjalanan spiritual manusia adalah mengarahkan segenap hati, pikiran, dan perasaan untuk melaksanakan kehendak Allah. Dia yang telah mengutus Putera-Nya ke dunia untuk menebus manusia karena Ia lebih dahulu mengasihi kita. “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal dalam kasih-Nya”. Kasih adalah tuntutan dasariah sebagai sahabat Yesus. Meski lemah dan rapuh namun perjuangan sebagai murid Kristus harus senantiasa mengarahkan seluruh karya dan pelayanan dalam kasih akan sesama.

Insan manusia tidak dapat lari dari Allah, sekalipun  berlumur dosa. Sebab Allah telah merangkulnya dalam kasih-Nya dan mengutusnya menjadi pewarta cinta kasih. Perkara sekarang, orang mengalami banyak krisis dan dilema hidup yang berkepanjangan. Akibatnya orang sulit untuk berkata ‘Ya!’ atas panggilan dan perutusan-Nya. Sibuk dengan diri sendiri, memusingkan hal-hal duniawi, terkekang dalam krisis ekonomi, kurangnya cinta kasih, hidup spiritual yang buruk, dan alasan lain yang membuat manusia enggan untuk memiliki komitmen sebagai sahabat Yesus.

Setiap insan manusiawi memiliki hak akan panggilan kasih-Nya dengan menuruti perintah-Nya yakni berbuat kasih pada sesama. Supaya kelak orang memadahkan mazmur syukur “Tuhan mendudukkan dia bersama para bangsawan”.

(Fr. Yanto Kansil)

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh. 15:14).

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, bantulah aku melaksanakan perintah-Mu, supaya pantas disebut sahabat-Mu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini