“Jangan Berpaling”: Renungan, Sabtu 1 Juni 2019

0
2010

Pw. S. Yustinus, Mrt. (M)

Kis. 18:23-28; Mzm. 47:2-3,8-9,10; Yoh. 16:23b-28; atau dr RUybs

Salah satu tantangan di era modern ini yakni menyerukan tentang kebenaran. Ketika menyerukan tentang kebenaran, tak jarang kita akan berhadapan dengan perselisihan dan perdebatan dengan orang-orang yang tidak menginginkannya. Bahkan bisa jadi, kita akan dipojokkan dan dianggap bahwa kitalah yang salah. Sehingga banyak orang cenderung diam saat berhadapan dengan sesuatu yang dianggapnya keliru.

Dalam Injil hari ini, Yesus berupaya memberikan peneguhan kepada para murid-Nya. Ia berkata: “Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku”. Lewat ungkapan ini, Yesus hendak menyatakan bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan ketika berjalan bersama-Nya. Dengan percaya pada Yesus dan mengasihi Dia, para murid akan menerima sukacita. Percaya pada Yesus tidak hanya berarti mempercayakan diri sepenuhnya kepada Yesus. Percaya kepada Yesus menuntut pula sikap menaati perintah-perintah-Nya. Salah satu tindakan yang terarah pada hal demikian yakni menyerukan tentang kebenaran. Dengan tindakan yang demikian seseorang dapat mencerminkan diri sebagai orang percaya.

Dalam bacaan pertama, rasul Paulus menceritakan tentang kisah seorang Yahudi bernama Apolos yang berasal dari Alexandria. Ia memiliki keteguhan hati untuk mengajarkan tentang Yesus. Dia tak jemu-jemu membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. Sikap yang demikian dilakukan oleh Apolos berangkat dari keyakinannya bahwa kebenaran itu harus diserukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita takut untuk menyerukan kebenaran yang diketahui. Kita kadang takut akan dibenci atau dikucilkan oleh teman-teman atau sahabat-sahabat kita. Kita takut jika menyerukan tentang kebenaran, kita akan ditinggalkan oleh orang-orang yang dekat dengan kita.

St. Yustinus Martir yang hari ini kita peringati telah menunjukkan teladan iman bagi kita. Ia dengan berani mewartakan kebenaran tentang Yesus Kristus yang ketika itu dilarang dalam Kekaisaran Romawi. Meskipun karena hal demikian ia akan disesah dan kepalanya dipenggal, tetapi pada akhirnya ia memperoleh kebahagiaan kekal di Surga.

Semoga kita pun dapat meneladani sikap St. Yustinus Martir yang berani menyerukan kebenaran. Sehingga kelak kita pun memperoleh kebahagiaan kekal bersama para kudus di Surga.

(Fr. Fiki Panggola)

Sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya(Yoh. 16:27).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku untuk senantiasa menyerukan kebenaran. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini