“Kepercayaan”: Renungan, Sabtu 20 April 2019

0
2738

Malam Paskah (P)

Kej. 1:1-1 – 2:2 (Kej. 1:1, 26-31a); Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,13-14,24,35c atau Mzm. 33:4-5,6-7,12-13,20,22; Kej. 22:1-18 (Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18); Mzm. 16:5,8,9-10,11; Kel. 14:15 – 15:1; MT Kel. 15:1-2,3-4,5-6,17-18; Yes. 54:5-14; Mzm. 30:2,4,5-6,11,12a,13b; Yes. 55:1-11; MT Yes.12:2-3,4bcd,5-6; Bar. 3:9-15,32 – 4:4; Mzm. 19:8,9,10,11; Yeh. 36:16-17a,18-28; Mzm. 42:3,5bcd; 43:3,4 kalau ada pembaptisan MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6 atau Mzm. 51:12-13,14-15,18-19; Rm. 6:3-11; Mzm. 118:1-2,16ab-17,22-23; Luk. 24:1-12.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, percaya berarti mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Ada tiga macam sikap percaya yaitu percaya kepada diri sendiri, orang lain dan Tuhan. Percaya diri itu mandiri. Percaya kepada orang lain itu terbuka. Percaya kepada Tuhan itu wajib. Percaya pada diri sendiri dan orang lain memang baik. Tetapi, perlu diingat bahwa baik diri sendiri maupun orang lain tidaklah selalu benar. Hanya Tuhanlah yang selalu benar sebab Dialah kebenaran asali. Karena itu, kita sebaiknya meminta penyertaan-Nya. Penyertaan Tuhan akan menuntun manusia pada jalan yang benar.

Bacaan-bacaan hari ini menekankan soal sikap percaya kepada Tuhan atau dapat kita sebut dengan beriman. Sehubungan dengan hal tersebut, pernahkah kita menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan? Di dalam Kitab Kejadian, kita dapat melihat Abraham yang sangat patuh kepada Tuhan. Dia diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal, Ishak, sebagai korban bakaran. Abraham mengiyakan permintaan seberat itu, karena ia sungguh percaya kepada Tuhan.

Kepercayaan Abraham itu terbukti. Ternyata, Tuhan hanya ingin menguji imannya. Setelah mengetahui sekuat apa imannya. Tuhan menyuruhnya supaya tidak mengorbankan anaknya. Selain itu, bacaan Injil menampilkan sikap ketidakpercayaan dari para rasul. Ketika perempuan-perempuan yang pergi mendapati kubur Yesus telah kosong dan memberitahukan apa yang mereka lihat serta dengar di sana namun para rasul tidak percaya. Padahal, Yesus pernah mengatakan kepada mereka saat masih di Galilea, bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga setelah disalibkan.

Percaya kepada Tuhan sangatlah penting. Mengapa? Karena Dia selalu menyediakan rencana yang indah bagi kita. Tuhan hanya menguji iman kita, apakah kita mampu menghadapi semua itu. Sama halnya dengan peristiwa Abraham yang mengorbankan anak tunggalnya. Maka dari itu, kita perlu belajar  dari sikap Abraham untuk menjadi orang yang selalu berpegang teguh pada janji Tuhan.

(Fr. Ansfridus Samandi)

 “Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia” (Rm. 6:8).

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, tanamkanlah kepercayaan akan diri-Mu di dalam diri kami anak-anak-Mu. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini