Hari Selasa dalam Pekan Suci (U)
Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38.
Perjamuan malam terakhir adalah peristiwa dimana Yesus bersama dengan murid-murid-Nya menikmati makan malam terakhir bersama. Sejak awal, Yesus sudah mengetahui bagaimana pengkhianatan yang akan dilakukan oleh murid-murid-Nya sendiri dan Dia juga sudah mengetahui bagaimana Ia akan mati.
Bisa dibayangkan betapa sedih dan terlukanya hati Yesus ketika Yudas berkhianat dan Petrus menyangkal-Nya. Materi telah membuat Yudas mengabaikan peringatan Yesus dan tetap menjalankan rencananya untuk menjual Yesus seharga 30 keping perak, setara dengan harga normal untuk seorang budak. Lebih menyedihkan adalah ia tidak bertobat setelah berbuat dosa. Yudas memilih untuk melarikan diri dari masalah dengan cara bunuh diri. Begitu pula dengan Petrus, yang dengan sangat yakin menyatakan kesetiaannya kepada Yesus dan bahkan menyatakan akan memberikan nyawanya untuk Yesus. Namun sebaliknya Petrus menyangkal bahwa ia tidak mengenal Yesus ketika berada di tengah-tengah orang banyak.
Memang pengkhianatan bisa terjadi dimana saja. Baik di bidang politik, pemerintah, Gereja, kampus, sekolah maupun di lingkungan kita sendiri dan biasanya pengkhianatan dilakukan oleh orang-orang yang terdekat. Seorang sahabat yang luar biasa baiknya, bisa saja berubah menjadi pengkhianat. Penyebabnya mungkin banyak. Bisa saja karena persaingan yang tidak sehat, sirik, haus akan harta, uang, jabatan dan lain sebagainya.
Tak ada satupun pengkhianatan akan meninggalkan sakit dan luka yang begitu mendalam. Setiap orang yang pernah mengalaminya, mungkin sampai sekarang luka itu belum sembuh total. Tak bisa dipungkiri, terkadang muncul keinginan untuk membalas. Supaya seimbang dan setimpal dengan luka yang dirasakan. Wajar hal itu muncul. Namun belajar sikap Yesus Sang Guru dan melihat bagaimana Ia menerima pengkhianatan yang telah dilakukan oleh murid-murid-Nya. Kasih adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka akibat pengkhianatan. Bukankah kita sudah tahu bahwa Yesus sudah mengampuni pengkhianatan Yudas jauh sebelum ia menjual Yesus? Yesus selalu mengajarkan cinta kasih yang tanpa syarat, tanpa pamrih dan tidak egois.
Mengikuti teladan Yesus yang sejak dahulu, saat ini dan akan datang tetap mengasihi semua orang tanpa melihat dosa-dosa yang kita perbuat. Sebab, Ia telah menunjukkan kasih sejati, tetap mengampuni walau hati-Nya yang kudus dan mulia menjadi terluka dengan segala kedosaan.
(Fr. William Jansen)
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang diantara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh. 13:21b).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bimbinglah kami selalu. Amin











