“Upah”: Renungan, Selasa 5 Maret 2019

0
2158

Hari biasa (H)

Sir. 35:1-12; Mzm. 50:5-6,7-8,14,23; Mrk. 10:28-31.

Apa upah yang akan kita peroleh ketika kita meninggalkan segala hak milik kita, harta benda, keluarga, sahabat, dan lain sebagainya demi mengikuti Yesus?

Kata upah dalam kamus bahasa Indonesia menunjuk kepada uang yang dibayarkan sebagai balas jasa atau sebagai pembayar tenaga yang sudah dikeluarkan dalam mengerjakan sesuatu. Upah kerja merupakan hal yang sangat penting, karena melalui upah yang diperoleh maka kita dapat mengukur kemampuan kita dalam bekerja. Ketika kita bekerja tidak dengan sungguh-sungguh maka upah yang akan diperoleh tidak setimpal atau tidak sesuai dengan pekerjaan yang kita lakukan. Tetapi jika kita menekuni suatu pekerjaan dan berani mengambil resiko dari pekerjaan tersebut, maka percayalah bahwa upah yang akan diperoleh akan setimpal dengan apa yang telah kita kerjakan atau kita usahakan.

Dalam bacaan Injil kali ini, penginjil Markus menampilkan suatu hal yang menarik. Hal tersebut  berkaitan erat dengan upah, dan upah yang dimaksud adalah kebahagiaan surgawi yang dijanjikan Yesus. Ketika Petrus bertanya kapada-Nya mengenai upah yang akan mereka terima ketika meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Dia, Yesus berkata bahwa barang siapa yang mengikuti-Nya akan menerima seratus kali lipat apa yang dikorbankannya. Dalam pikiran kita, muncul suatu pertanyaan, yakni apa upah yang dimaksudkan Yesus tersebut?

Upah yang dimaksud Yesus bukanlah seperti yang kita bayangkan, bahwa upah tersebut berupa harta benda, dan segala yang lain yang bersifat duniawai, melainkan Yesus mau menjanjikan suatu kehidupan dan kebahagiaan kekal bersama Dia di dalam Kerajaan Surga. Upah yang dimaksudkan Yesus adalah harta dan kekayaan yang bersifat kekal dan abadi, yang tidak dapat sirna atau hilang, melainkan harta yang akan menjadi modal bagi kita di dalam kehidupan yang selanjutnya. Kehidupan  tersebut adalah kebahagiaan Surgawi yang akan kita terima, ketika kita telah bersatu dengan Dia di dalam kebahagiaan Surgawi.

Namun dalam realitas hidup saat ini, kebanyakan dari kita kurang tertarik, bahkan tidak tertarik dengan upah yang ditawarkan Yesus. Upah yang ditawarkan oleh dunia dipandang jauh labih baik daripada upah yang ditawarkan oleh Yesus tersebut. Apakah kita berani meninggalkan upah yang ditawarkan dunia dan mengikuti Yesus dengan tulus hati?

(Fr. Philipus Rahae)

“Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” (Mrk. 10:28).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah kami agar kami dapat menjadi pengikut-Mu yang sejati. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini