“Mengapa Berdoa?”: Renungan, Selasa 12 Maret 2019

0
4133

Hari biasa Pekan I Prapaskah (U)

Yes. 55:10-11; Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19; Mat. 6:7-15.

Doa merupakan suatu bentuk komunikasi kita dengan Allah. Sebab doa adalah jawaban yang paling mulia atas kehadiran Allah di dalam semesta, dalam sejarah, dalam hidup sehari-hari dan dalam hati kita. Dengan berdoa, kita berelasi terus menerus dengan Allah yang hidup.

Penginjil Matius melukiskan suatu rumusan doa dari Yesus Kristus, yang diajarkan-Nya kepada kita, agar kita tetap memiliki komunikasi yang intim dengan-Nya. Itulah doa Bapa Kami. Doa ini diajarkan oleh Bapa melalui Putra-Nya kepada kita. Kita telah dibaptis dan diangkat menjadi anak-anak Allah maka kita pun harus membangun dan menjaga hubungan kita dengan Allah sebagai Bapa Tuhan kita.

Rumusan doa ini secara eksplisit mengungkapkan tiga unsur penting bagi kita orang beriman. Pertama, sapaan terhadap Allah Bapa, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Sapaan ini menjadi suatu bentuk penghormatan manusia kepada Sang Pemberi Hidup, Dialah Allah Bapa Tuhan kita Pencipta langit dan bumi.

Kedua, memohon berkat-Nya, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Rezeki apapun yang kita peroleh dalam hidup ini merupakan berkat dan pemberian Tuhan. Bukan saja soal makanan melainkan anugerah kehidupan. Maka rasa syukur secara alami membisikkan kepada kita agar berkontak dan berkomunikasi dengan Tuhan.

Dan ketiga yakni pengampunan, “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Sebagai manusia yang rapuh kita sering jatuh dalam dosa. Kesadaran ini menghantar kita pada kemurahan hati Allah yang Maha Pengampun, supaya kita diampuni dan diselamatkan. Maka kita pun harus mengampuni orang yang berbuat salah kepada kita sebagai bentuk tindakan kasih kita kepada Allah.

Kita hidup dalam dunia yang memiliki berbagai fasilitas komunikasi yang dapat menjangkau siapa saja di belahan bumi ini. Akan tetapi apakah fasilitas komunikasi itu dapat menjangkau Bapa yang di surga? Tidak. Fasilitas komunikasi di dunia ini disediakan sesuai fungsi dan tujuannya dan itu terbatas oleh ruang dan waktu. Komunikasi yang menghubungkan kita dalam perjumpaan dengan Allah hanya dengan doa. Doa bagi jiwa bagai makanan bagi tubuh. Dalam doa terjadi persatuan antara Allah dan kita manusia. Di situlah manusia berbicara kepada Allah dan Allah berbicara kepada manusia.

(Fr. Sonny Songbes)

“Dalam doamu jangalah bertele-tele” (Mat. 6:7a).

 Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah aku untuk tak jemu-jemu berdoa kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini