“Masih Diberi Waktu”: Renungan, Minggu 24 Maret 2018

0
2278

Hari Minggu Prapaskah III (U).

Kel. 3:1-8a,13-15; Mzm. 103:1-2,3-4,6-7,8,11; 1Kor. 10:1-6,10-12; Luk. 13:1-9.

Tentu tidak ada orang yang mau hidup susah apalagi menderita. Tidak ada juga orang memimpikan hidup yang sulit, melainkan sebaliknya orang lebih mengidamkan hidup yang bahagia, sejahtera, dan sukses. Namun terjadi malah sebaliknya, kita lebih cenderung jatuh dalam penderitaan baik itu secara fisik maupun rohani.

Sebagai manusia kita cenderung lari kepada Tuhan ketika berhadapan dengan penderitaan. Apa yang membuat kita melakukan hal itu, karena banyak orang sering menyamakan penderitaan dengan dosa. Pengalaman kehidupan kita tersebut bisa dikatakan mirip dengan apa yang terjadi dalam bacaan Injil hari ini.

Dikisahkan bahwa sekelompok orang membawa kabar tentang pembantaian orang-orang Galilea yang dilakukan oleh Pilatus pada saat mereka mempersembahkan kurban. Yesus diperhadapkan dengan pandangan umum orang Yahudi bahwa orang yang mati dalam suatu bencana ada hubungannya dengan dosa. Itulah sebabnya Yesus mengungkapkan, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! Kata-Ku kepadamu…”. Yesus sesungguhnya mau menjelaskan bahwa mereka yang menderita tidak selamanya karena dosa, tetapi tidak juga berasal dari Allah. Allah bahkan menghendaki agar orang merasakan keselamatan, dengan menyerukan pertobatan, “Tetapi  jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian”.

Yesus menghendaki agar setiap orang dapat merasakan keselamatan. Tuhan membuktikan bahwa Ia tidak pernah mau menghukum manusia dengan penderitaan. Tuhan bahkan tidak menyerah dengan manusia ciptaan-Nya supaya mau kembali bertobat. Perumpamaan tentang pohon ara menjadi gambaran bahwa kesempatan itu masih diberikan. Seperti pengurus kebun anggur yang meminta agar pohon anggur yang mati tidak ditebang, demikian Tuhan juga masih berharap agar manusia tidak binasa karena dosa. Di sinilah Yesus menunjukkan kepada manusia betapa pentingnya pertobatan secara khusus di masa prapaskah ini.

Saudara terkasih, Tuhan masih membuka kesempatan bagi kita. Tuhan tidak mau menyerah supaya manusia mau bertobat. Kita mungkin teringat syair dari lagu Ebiet G. Ade yang berbunyi, “Yang terbaik hanyalah segeralah bersujud mumpung kita masih diberi waktu”. Semoga kita juga menggunakan waktu yang diberikan oleh Tuhan sebagai kesempatan untuk bertobat. Jangan tunda kesempatan itu!

(Fr. Angelo Cheryl Tanod)

“Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian ”(Luk. 13:5).

Marilah berdoa:

Ya Allah, maafkan segala perbuatan kami yang salah dihadapanMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini