Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U).
Yer. 18:18-20; Mzm. 31: 5-6,14,15-16; Mat. 20:17-28.
Ilmu pengetahuan pernah menduduki posisi teratas dalam sejarah peradaban umat manusia. Ilmu pengetahuan diagung-agungkan oleh para pakar dan banyak orang. Bahkan diyakini sebagai pengganti posisi Allah dalam penyelesaian pelbagai masalah. Hal ini kelak mengantar manusia untuk beralih dari kepercayaan kepada Allah kepada kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan. Situasi demikian juga menjadi salah satu alasan timbulnya ateisme. Walau demikian, pada akhirnya ilmu pengetahuan harus menyadari diri bukan sebagai penyelamat. Artinya, ada kesadaran mendalam bahwa ilmu pengetahuan merupakan sarana untuk membantu manusia dalam pelbagai multidimensi kehidupan.
Sabda Tuhan hari ini memberikan kepada kita beberapa hal penting yang dapat berguna dalam pengembangan diri ke depan. Pertama, ketidaksadaran. Hal demikian nampak secara jelas dalam permintaan ibu Yakobus dan Yohanes kepada Yesus. Permintaan demikian berasal dari motivasi alam bawah sadar. Mereka tidak sadar akan permintaan tersebut dengan segala konsekuensinya. Berhadapan dengan situasi demikian, Yesus bagaikan seorang psikiater yang dapat mengarahkan dan menjelaskan tentang permintaan tersebut. Persoalan demikian diperjelaskan oleh Yesus kepada Mereka. Yesus menolong dan mengantar mereka dari ketidaksadaran kepada kesadaran. Yesus menunjukkan ketidaksadaran tersebut dan mengantar mereka untuk menyadarinya.
Kedua, kesadaran. Setelah membantu ibu Zebedeus beserta anak-anaknya untuk menyadari ketidaksadaran tersebut, Yesus kemudian menekankan agar para murid selalu sadar akan diri mereka. Kesadaran tentang tugas dan tanggung jawab mereka sebagai murid Yesus. Sadar tentang identitas mereka. Dalam konteks demikian, Yesus memberikan dua unsur penting yang selalu disadari dalam tugas dan tanggung jawab mereka, yaitu menjadi pelayan bagi sesama dan hamba bagi semua. Sama seperti Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.
Sangat jelas bahwa sabda Tuhan hari ini menampilkan Yesus bagaikan seorang psikiater. Yesus ditampilkan sebagai seorang psikiater yang mampu memahami dan mengarahkan orang untuk menyadari segala bentuk ketidaksadaran. Sebab bagi Yesus, kesadaran adalah unsur penting dalam hidup. Kesadaran dapat membawa dan mengarahkan hidup kita kepada kebaikan. Sebaliknya, ketidaksadaran bersifat merusak atau menghancurkan. Sehingga dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.
(Fr. Amatus Watkaat)
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat. 20:26-27).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bantulah kami untuk selalu sadar akan tugas dan tanggung jawab kami. Amin.











