Hari Kamis ses Rabu Abu (U)
Ul. 30:15-20; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 9:22-25.
Menyangkal diri untuk mengikuti Yesus biasanya diartikan dengan meninggalkan segala sesuatu yang diinginkan seperti keberhasilan karir, kebiasaan buruk dan kenyamanan materi, demi mengikut Kristus. Mungkin kita pernah mendengar orang yang berkata: “Saya memang pemarah karena sudah kebiasaan, tidak bisa diubah” atau, “Saya begini, karena pada dasarnya keluarga saya memang berantakan.” Yang nampak di sini adalah keluarga, masa lalu, dan situasi sering dijadikan kambing hitam ketidakmauan orang untuk berubah menjadi lebih baik.
Dalam Injil hari ini, Yesus dengan jelas menunjukkan tanggung jawab kita secara personal dalam mengikuti Dia. Ia menegaskan bahwa siapa saja yang mau untuk mengikuti-Nya, harus menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari. Penegasan Yesus ini menunjukkan tanggung jawab yang diberikan-Nya, jika kita ingin mengikuti-Nya. Dia tidak melihat latar belakang keluarga, situasi pendidikan, dan latar belakang kepribadian. Karena saat kita mau mengikuti-Nya, maka kita sudah mampu untuk menjalankan tanggung jawab yang diberikan-Nya.
Artinya, yang diinginkan-Nya ialah kita mau bertanggung jawab untuk merubah kebiasaan buruk kita. Ia tidak ingin agar kita menjadi orang-orang yang hanya mau berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain, seperti orang tua, sanak saudara, teman, bahkan Tuhan sendiri. Apalagi, di zaman sekarang ini, kebanyakan dari kita mau mengikuti-Nya karena memiliki berbagai persyaratan yang menurut mereka harus terpenuhi saat mengikuti-Nya.
Cara pandang seperti ini patut untuk diubah. Kita bisa belajar dari Santa Perpetua dan Martir Felisitas yang dengan keberanian menolak menyembah dan memberikan persembahan kepada dewa-dewi yang diperintahkan oleh kaisar pada masa itu. Mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas iman akan Allah dan telah berhasil mengatasi sengsara serta maut tanpa menghiraukan para penganiaya. Mereka telah bertanggung jawab atas pilihan hidup, yakni berani untuk mati demi Yesus Kristus.
Bagaimana dengan kita? Sebab dalam bacaan pertama kita diperintahkan untuk mengasihi Tuhan Allah dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan paraturan-Nya, supaya kita tidak binasa melainkan diberkati.
(Fr. Fidelis Solilit)
“Setiap orang yang mau mengikuti Aku ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku” (Luk. 9:23).
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarilah aku untuk bertanggung jawab atas panggilan hidupku ini. Amin.











