Hari Jumat ses Rabu Abu (U)
Yes. 58:1-9a; Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19; Mat. 9:14-15.
Hidup itu ditandai dengan penilaian yang berbeda-beda dari masing-masing orang. Ada yang menilai seseorang lewat apa yang terlihat oleh mata dan yang bisa diamatinya. Ada pula yang menilai orang dari pengenalan yang intens dengan orang tersebut. Hal tersebut nampak dalam peribadatan pula. Dalam peribadatan, orang yang sombong biasanya suka membuat suatu patokan dalam beribadah, dan dengan patokan ini mereka berusaha mengukur orang lain. Konsekuensinya mereka kurang memiliki kerendahan hati.
Bacaan hari ini memberikan kepada kita suatu permenungan batin mengenai apa itu puasa. Nabi Yesaya menggambarkan puasa bukan dengan kesombongan rohani: mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak mengindahkannya? Melainkan, membagi apa yang dimiliki, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, dan tidak menyembunyikan diri dari orang lain adalah puasa yang benar di mata Allah. Dan Kristus menegaskan dalam Injil bahwa para murid-Nya tidak berpuasa karena Dia masih ada bersama-sama mereka.
Kita patut berefleksi bahwa Kristus memberikan diri-Nya bagi manusia untuk menyelamatkan manusia. Karena itu puasa adalah bentuk dari kita untuk bertobat, menyangkal diri dan mempersatukan hidup kita dengan Kristus.
Bagi Kristus, puasa terletak pada kedekatan hati manusia kepada Allah. Segala sesuatu yang manusia lakukan mesti bersumber dari Allah sendiri. Untuk berkenan di hadapan Allah, manusia mesti melakukan segalanya dengan kerendahan hati dan pertobatan. Orang yang rendah hati pasti melaksanakan hukum Tuhan dan melakukan pertobatan. Begitu pula sebaliknya, orang yang bertobat pasti berserah kepada Tuhan, mendekatkan diri pada-Nya dan memohon ampun.
Di zaman sekarang, masih pula terdapat orang “farisi jaman now”, yang suka menilai orang dari luarnya saja. Mari tinggalkan sikap farisi jaman now dan datang kepada Tuhan dengan diri kita yang polos, karena Ia telah berkata bahwa ketika kita ada bersama-Nya, kita tak akan merasakan dukacita, kehilangan harapan dan semuanya dapat dilalui jika kita rendah hati dan mau kembali kepada-Nya.
(Fr. Rafael Kelitadan)
“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berduka-cita selama mempelai itu ada bersama mereka?” (Mat. 9:15).
Marilah berdoa:
Tuhan, bantulah kami untuk lebih dekat kepadaMu. Amin.











