“Berjumpa dengan Kristus”: Renungan, Jumat 29 Maret 2019

0
1779

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U)

Hos. 14:2-10; Mzm. 81: 6c-8a,8bc-9,10-11 ab,14,17. Mrk. 12:29b-34.

Salah satu sakramen dalam Gereja Katolik adalah pertobatan atau pengakuan dosa. Sakramen adalah tanda atau sarana yang kelihatan dari rahmat Allah yang tak kelihatan. Iman Gereja Katolik dalam sakramen ini bertolak dari dasar biblis sebagaimana terungkap dalam bacaan-bacaan hari ini misalnya seruan Hosea yakni, “Bertobatlah hai Israel, kepada Tuhan, Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan! Katakanlah kepada-Nya: ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami”.

Seruan Hosea tentang pertobatan dalam konteks ini begitu relevan bagi kita segenap umat beriman dalam masa prapaskah ini. Ungkapan penyesalan dan pertobatan kita kepada Allah, dilakukan dihadapan-Nya lewat para imam sebagai dia yang bertindak In persona Christi, yang hadir dalam kamar pengakuan. Di sana bukan lagi sosok imam yang memberi pengampunan, melainkan Kristus sendiri.

Ketika Sang Imam memberikan pengampunan kepada kita, ia berkata: “Dengan kuasa Gereja yang diberikan kepadaku, aku melepaskan engkau dari segala dosa dan kesalahanmu….” Ungkapan ini menunjuk pada otoritas kuasa dari Yang Ilahi, lewat Yesus Kristus, yang dipercayakan kepada Gereja, yakni mereka yang diangkat untuk meneruskan karya pewartaan Allah di bumi. Mulai dari para rasul hingga pengganti-penggantinya.

Dengan demikian, siapa saja yang diangkat oleh Kristus untuk melanjutkan karya pewartaan ini, ia harus memiliki hidup dan tindakan seperti Kristus dengan cara melakukan hukum Ilahi sebagaimana terungkap dalam bacaan Injil hari ini: “Hukum yang terutama ialah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Penegasan ini merujuk kepada kita semua sebagai pengikut Kristus dan sebagai pewarta-pewarta kerajaan Allah. Hendaklah yang utama bagi kita adalah melakukan hukum cinta kasih, baik terhadap Tuhan Allah kita dan kepada sesama manusia sebagaimana cinta terhadap diri kita sendiri. Sebab kedua hukum ini menjadi dasar dari semua hukum yang ada.

(Fr. Joseph Ohoiledjaan)

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu…. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk. 12:30-31)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami mampu melakukan hukum cinta kasih yang Engkau ajarkan kepada kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini